Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember menjadi pengingat bagi kita semua bahwa penyebaran virus HIV masih terus berlangsung. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV selama tahun 2016. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat penderitanya mudah terkena infeksi. 

Tidak hanya itu, stigma negatif masyarakat membuat siapapun yang terjangkit HIV mengalami tekanan psikis. Ini yang kerap membuat penderita kehilangan semangat untuk bertahan dan menyerah pada penyakit AIDS. Padahal, pengobatan rutin dan semangat lah yang membuat mereka mampu menjalani hidup seperti orang sehat pada umumnya.

Lilis, seorang ibu rumah tangga beranak tiga, adalah salah satu contoh ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang memiliki semangat tersebut. Tidak hanya mampu mengurus keluarganya, ia juga menjadi pendukung sebaya bagi ODHA lainnya di Depok. Perjalanannya sejak awal divonis mengidap HIV hingga sekarang ia ceritakan pada SKATA berikut ini.

Bagaimana awal mula ibu bisa terjangkit HIV?

Dulu, saya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Saya pikir, tidak mungkin saya bisa terjangkit HIV karena saya kan di rumah aja. Ternyata, almarhum suami saya itu pemakai jarum suntik. Tahun 2007, ia sering sakit, mulai dari buang air terus hingga mulut berjamur. Akhirnya, ia dirujuk untuk VCT (tes HIV) dan hasilnya positif. Karena ketidaktahuan kami, ia sempat drop dan tidak diobati hingga akhirnya meninggal. Kemudian, saya juga VCT dan hasilnya positif. Namun saya bersyukur karena anak saya negatif.

Lalu apa yang ibu lakukan setelah tahu HIV positif?

Saya sempat denial, maunya kabur. Saya sempat bekerja tetapi kuatir usia saya tinggal beberapa tahun lagi sementara anak saya masih kelas 1 SD. Saya juga sempat berobat ke RS Fatmawati, namun saat itu syarat mendapat ARV (obat penekan virus HIV) kadar CD4 nya harus di bawah 200. Saya juga harus cek darah sambil bolak-balik kerja. Akhirnya, saya ganti nomer handphone agar tidak bisa dihubungi. Tahun 2010, saya nge-drop dengan jamur di mulut, BAB terus, berat badan tinggal 35 kg, CD4 cuma 10. Saya pun dirawat di RS dan diberi obat Stavudine, Lamivudine, dan Epaviren. Hingga sekarang, saya masih rutin minum obat.

Bagaimana respon keluarga tentang status ibu?

Keluarga menerima. Mama, adik-adik, sepupu, semua tahu, meskipun dulu bapak saya pernah memisahkan barang-barang saya (karena takut tertular). Saya juga membuktikan bahwa sampai sekarang saya tetap sehat, jadi orang tua tetap mendukung. Saat saya nge-drop, mama saya yang menemani sementara adik-adik saya menjaga anak saya.

Apa saja proses pengobatan yang dijalani hingga sekarang tetap sehat?

Saya berobat dua kali sehari. Obat-obatan ini memiliki efek samping. Stavudine efeknya jangka panjang, seperti pipi menjadi tirus, pantat tepos, penimbunan lemak di punuk leher. Saya sampai sempat dioperasi karena penumpukan lemaknya besar. Kalau sekarang yang saya rasakan paling ngilu di kaki atau pusing dari sore hingga malam setelah minum obat.

Apa yang membuat ibu berani menikah lagi dan memiliki anak saat sudah positif HIV?

Saya bertemu suami kedua di Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) di Depok dan memutuskan menikah karena tahu ODHA masih bisa melahirkan lagi tanpa membuat bayinya tertular HIV. Saat berencana hamil anak ketiga, saya minum ARV minimal 6 bulan, memastikan tidak terkena infeksi menular seksual, VL (jumlah virus HIV dalam darah) tidak terdeteksi, CD4 kurang dari 350. Proses persalinan pun caesar. Setelah lahir, bayi saya diberi prophylaxis selama 6 minggu. Alhamdulillah, anak saya negatif HIV.

Pernah menerima diskriminasi?

Saya sudah kebal. Dulu pernah sewaktu mau melahirkan, jamkesda saya ditulis B20, kode buat orang HIV. Mereka bilang biaya persalinan saya tidak bisa dicover karena ini penyakit perilaku. Lah, kan saya nggak ngapa-ngapain, saya cuma ibu rumah tangga. Alhamdulillah sekarang sudah bisa dicover BPJS. Dulu di lingkungan saya juga ada yang tidak mau bersalaman, tapi setelah saya dan suami berbaur dengan masyarakat, ikut 17an, rujakan bareng, nggak ada lagi yang takut. Dan pembuktian bahwa kami sehat, anak-anak kami negatif HIV, itu butuh bertahun-tahun.

Adakah pesan untuk ODHA di Hari AIDS ini?

Buktikan bahwa ODHA juga bisa sehat, bisa bekerja juga sama seperti orang pada umumnya. Jangan lupa bersyukur, karena masih banyak penyakit lain yang lebih berat seperti penyakit ginjal yang membutuhkan cuci darah atau suntik insulin bagi penderita diabetes. Terakhir, jangan minder. Stigma negatif terkadang muncul karena kita yang menarik diri. Jadi, buka diri dan ikuti kegiatan masyarakat.