Postpartum Depression (PPD), sempat mengalami?  

Craig (35 tahun) 

“Saya tidak tau kalau saya mengalami PPD kala itu. Beberapa malam bayi kami terkena kolik dan menangis tak henti. Akibat kelelahan, saya dan istri menjadi sering debat emosi. Rasanya tertekan sekali. Saya merasa gagal menjadi ayah dan suami. Akhirnya kami berhasil melewati masa sulit di awal menjadi orangtua dengan bantuan konseling. Entah bagaimana nasib kami kala itu tanpa bantuan profesional.”

Adit (29 tahun) 

“Kaku, itu saya. Besar sebagai anak tunggal, saya tidak paham sama sekali mengurus anak kecil. Ketika anak saya lahir, saya clueless. Melihatnya saja saya takut, apalagi ketika ia menangis. Bingung harus melakukan apa. Beruntung memiliki istri yang sabar menuntun, hingga saya berani memegang anak, setelah ia berusia 5 bulan!” 

Dana (31 tahun) 

“Waktu anak pertama lahir, saya cenderung cemas. Bukan karena tidak bahagia tapi saya takut tidak bisa memenuhi kebutuhan finansialnya. Istri hamil tak lama setelah kami menikah, saya belum sempat merencanakan apa-apa. Ketika itu kami hanya mengandalkan tabungan tanpa asuransi. Bagi seorang lelaki, memenuhi kebutuhan menjadi tanggungan besar. Entah ini termasuk PPD atau tidak, tapi untuk saya tekanan saat itu sangat menakutkan.”

Arnold (40 tahun)

“Bukan, bukan soal memegang atau mengurus bayi yang saya khawatirkan ketika memiliki anak pertama kali. Saya bahagia sekali memiliki Shan (2 tahun) kala itu. Tapi sebagai laki-laki dengan kebutuhan biologis, saya merasa tertekan karena istri kehilangan gairah seksual begitu melahirkan hingga anak berusia 3 bulan. Ia kelelahan mengurus bayi, hingga yang ia pikirkan hanya istirahat dan seolah melupakan saya.”

Ini merupakan sebagian dari beberapa kisah Postpartum Depression (PPD) yang dialami oleh ayah pasca istri melahirkan. Sebenarnya apa, sih PPD itu? 

Depresi postpartum adalah masalah kesehatan mental umum yang biasa terjadi pada wanita pasca melahirkan. Pada PPD, pasca melahirkan bisa menjadi sesuatu yang mengerikan dan berujung pada depresi. Gejala mulai dari moodswing, sedih, mudah marah, sulit tidur, hingga gejala berat seperti halusinasi dan rasa ingin menyakiti diri sendiri juga sang bayi. Jika ini terjadi, bantuan profesional sangat dianjurkan. 

Walau PPD biasa terjadi pada wanita, tapi ternyata hal ini juga lazim terjadi pada pria. Berbeda dengan wanita, PPD pada pria jarang terdeteksi karena pengetahuan tentang masalah ini terbatas dan mereka menunjukkan gejala yang berbeda saat mengalami. 

Merasa terabaikan adalah hal yang ayah rasakan pasca persalinan. Saat istri mulai menaruh penuh perhatian pada bayi, afeksi pada ayah menjadi terabaikan. Mulai dari komunikasi hingga gairah seksual. 

Hal lain yang lazim menjadi alasan ayah merasa ketakutan dan cemas adalah tak siap biaya. Tak bisa dipungkiri memiliki anggota baru dalam keluarga, pengeluaran tentu akan bertambah. Untuk ayah yang tidak memiliki perencanaan tentu ini bisa membuat tertekan. 

Dilain itu, ayah kerap ketakutan merawat bayi. Ya, ini hal yang wajar bahkan untuk ibu baru. Tidak ada sekolah menjadi orangtua sehingga ayah kerap kebingungan, cemas dan berujung pada depresi.  

Ayah yang mengalami PPD cenderung kesal dan marah, hingga melampiaskan kekesalan pada sesuatu hal yang lazim mereka lakukan hingga orang di sekitarnya tidak sadar kala ia tengah mengalami depresi. Sangat berbeda dengan ibu yang mudah memperlihatkan emosi. Lalu bagaimana solusinya? 

Untuk ayah yang terkena depresi pasca persalinan, sebenarnya tak berbeda dengan layaknya seorang ibu yang mengalaminya. Komunikasi menjadi hal yang penting kala ini. Terbuka dan saling mendukung antar pasangan membuat kesulitan dan kecemasan yang terjadi akan dirasa lebih ringan. Saling mendukung dan terlibat dalam pengurusan anak tanpa dipaksakan juga bisa menjadi solusi. Biar bagaimanapun, pengasuhan anak harus dijalani bersama. Jika depresi menjadi semakin berat dengan gejala yang sudah tidak bisa tertolerir, maka cari bantuan profesional. 

Terpenting, tanamkan dalam hati bahwa memiliki anak adalah sesuatu yang indah dan tidak semua bisa mendapatkannya. Jadi, ayah adalah orang yang beruntung dan patut mensyukurinya.