Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan kekerasan terhadap anak karena selama ini kekerasan identik dengan kontak fisik. Padahal, ucapan kasar dan tidak menunjukkan kasih sayang termasuk bentuk kekerasan pada anak. Cerita di bawah ini mungkin bisa memberikan gambaran betapa besar dampak kekerasan yang dilakukan orang tua pada anak.

Sarah adalah remaja asal Timur Tengah yang hidup dengan ayahnya yang keturunan Arab dan ibu berdarah Amerika. Sejak kecil, ia melihat betapa ayahnya memperlakukan ibunya layaknya pembantu. Saat ia berusia tujuh tahun, ia mulai sadar apa yang terjadi dan kerap membela ibunya. Akibatnya, ia juga menjadi sasaran emosi ayahnya secara verbal. Panggilan kasar sering ditujukan padanya, mulai dari anak manja, idiot, hingga pelacur. Tidak hanya itu, Sarah kerap diomeli ayahnya selama berjam-jam hanya untuk menekankan betapa ia tidak menghormati ayahnya dan tidak pintar di sekolah. Ini membuat Sarah merasa dirinya sangat tidak berharga.

Menjelang lulus SMA, ibunya mengetahui dari sebuah buku bahwa yang terjadi pada mereka adalah kekerasan verbal dan emosional. Sarah pun mulai menyadari mengapa ia sangat tidak bahagia dan ingin bunuh diri. Ia pernah mengutarakan perasaannya pada ayahnya namun tidak mendapat respon apapun. Saat kuliah, Sarah tinggal di asrama. Hidup terpisah dengan ayahnya ternyata tidak mengurangi perilaku buruk sang ayah. Ayahnya kerap memata-matai kapan ia sedang online dan memarahinya. Dalam sehari, sang ayah bisa meneleponnya hingga enam kali. Jika tidak dijawab, ayahnya akan sangat marah.

Kekerasan yang berlangsung lama ini akhirnya menyebabkan Sarah divonis menderita ADD (attention deficit disorder) atau ketidakmampuan untuk fokus pada suatu hal. Ia menjadi sangat takut pada suara ayahnya, teriakannya, dan semua itu membuatnya seperti kehilangan energi dan daya pikir. Ia mengalami depresi dan menarik diri dari pergaulan. 

Akhirnya, ia memberanikan diri untuk melarikan diri ke Amerika bersama ibunya dan memulai hidup baru. Namun, dampak kekerasan verbal tersebut begitu besar hingga Sarah harus drop out kuliah karena ketidakmampuannya berkonsentrasi. Ia bisa tiba-tiba terjatuh dan lumpuh hanya dengan mengingat ayahnya atau saat ayahnya berhasil menghubunginya. Untuk mengatasi kelainan tersebut, Sarah pun mengikuti serangkaian terapi. Kini, ia sudah membaik meskipun memori buruk tersebut masih kerap datang.

Apa yang terjadi pada Sarah terjadi juga di sekitar kita. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh ayah sendiri sering tidak terdeteksi karena anak takut memberitahu orang lain dan menganggap wajar apa yang terjadi. 

Lalu, tindakan tidak wajar apa yang termasuk kekerasan?

Selain kekerasan fisik dan seksual, menyerang anak secara mental juga dapat digolongkan sebagai kekerasan. Misalnya, meremehkan, mempermalukan, mengancam, berteriak di depan anak, tidak memeluk/mencium. Tidak menyediakan kebutuhan dasar anak seperti makan, pakaian, kesehatan, pengawasan juga termasuk bentuk kekerasan.

Apa penyebabnya?

Perilaku seperti yang ditunjukkan oleh ayah Sarah bisa disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang agama, riwayat kekerasan fisik atau seksual pada masa kecil, riwayat depresi, penggunaan NAPZA, berperan sebagai orang tua tunggal, usia masih remaja, pendidikan rendah, sosial ekonomi yang rendah. Namun, kondisi anak dapat pula menjadi pemicu seperti anak dengan gangguan perkembangan, cacat fisik, gangguan perilaku dan mental.

Seriuskah dampaknya bagi anak?

Ya. Seperti kasus di atas, berjauhan dengan sumber kekerasan tidak menjadikan hidup Sarah seketika tenang. Ia bahkan mengalami PTSD atau post-traumatic stress disorder, dimana ia merasa selalu ketakutan dan tak berdaya, sulit berkonsentrasi, dan mimpi buruk. Kekerasan yang dialami pada masa kecil juga dapat membuat anak kelak susah menjalin hubungan karena tidak mudah percaya pada orang lain dan selalu merasa curiga. Ia pun berpotensi menjadi pelaku kekerasan dan memiliki masalah kesehatan.

Jika anak mengalami kekerasan, apa yang harus dilakukan?

Hindari berada hanya berdua dengan ayah, usahakan selalu ada anggota keluarga lain yang menemani. Bercerita pada orang yang dapat dipercaya, seperti ibu, guru, keluarga lain, teman, juga dapat menjadi solusi. Selalu siapkan nomor telepon darurat yang bisa dihubungi dan lokasi aman yang bisa dituju jika anak terpaksa harus melarikan diri. Ketahui “jalur evakuasi” dari rumah jika anak yakin sang ayah akan kembali melakukan hal yang membahayakan dirinya.

Dapatkah korban berdamai dengan masa lalu?

Bisa saja, namun membutuhkan waktu dan usaha. Menumbuhkan konsep diri yang baik, bersosialisasi kembali dengan teman, kembali merawat diri setelah masa-masa suram tersebut bisa menjadi awalan yang baik. Bergabung dengan support group dan lakukan konseling atau terapi jika dirasa perlu.