“Kalau enggak nurut, nanti ibu bilangin ayah lho!”

Terdengar familiar? Ada kalanya kita sebagai orang tua merasa kehabisan akal untuk membuat anak patuh. Salah satu cara “instan” adalah seperti kalimat di atas, menakutinya dengan sosok yang ia lebih patuhi. Jika anak takut dengan sang ayah yang lebih disiplin, maka ayah menjadi bad cop. Sebaliknya, jika ayah lebih permisif dan ibu lebih tegas terhadap aturan, maka ibu lah bad cop-nya. Namun, apakah pembagian peran good cop bad cop seperti ini efektif dalam pengasuhan?

Menurut Orissa Anggita, psikolog Rumah Dandelion dalam parentalk.id, sistem polisi baik dan buruk ini menunjukkan upaya penerapan disiplin yang tidak sejalan antar orang tua. Hal ini akan menimbulkan kebingungan bagi anak dan lebih sulit untuk membentuk perilaku yang diinginkan. Anak pun bisa memiliki orang tua favorit dan orang tua yang ditakuti, yang akan mempengaruhi kedekatan mereka dengan orang tuanya.

Selain itu, anak dapat mengambil celah dari perbedaan pendapat kedua orang tuanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya, ibu melarang anak untuk bermain game sebelum selesai mengerjakan PR. Anak bisa saja mengatakan, “Tapi, ayah bilang boleh kok!” dan sejenisnya. Jika kemudian kita menyatakan ketidaksetujuan terhadap aturan pasangan di depan anak, anak akan belajar bahwa ayah dan ibunya tidak sepakat sehingga ia bisa mengandalkan salah satunya untuk melarikan diri dari tanggung jawab.

Jadi, bagaimana sebaiknya pembagian peran antara ayah dan ibu?

Buatlah kesepakatan bersama pasangan mengenai apa saja yang diperbolehkan dan tidak untuk anak. Jika anak sudah cukup besar untuk mengerti peraturan, ajak anak serta untuk membuat peraturan bersama berikut konsekuensinya. Apabila suatu saat anak protes atas larangan yang ia dapat, kita bisa mengatakan bahwa “ayah dan ibu sudah membuat kesepakatan ini” sehingga ia tidak dapat mencari pembelaan dari good cop.

Ada kalanya, pasangan lupa akan peraturan yang telah disepakati atau membuat aturan baru yang kita tidak setujui. Jika ini terjadi, hindari mengoreksi pasangan di depan anak. Orang tua harus terlihat kompak sebagai satu tim. Saat anak tidak ada, kita bisa mendiskusikan perbedaan tersebut dengan pasangan hingga tercapai kesepakatan.

Dengan adanya peraturan yang ditaati bersama, diharapkan tidak ada lagi good cop dan bad cop bagi anak. Baik kita maupun pasangan harus bisa konsisten untuk disiplin jika menyangkut peraturan.  

Bagaimana jika karakter ayah lebih keras dan ibu lebih lembut, apakah sebaiknya pengasuhan tetap dijalankan mengikuti karakter masing-masing? 

“Normalnya, orang tua yang memiliki karakter lebih suportif akan bekerja sama dengan pasangannya agar pasangannya tersebut tidak kasar ataupun keras pada anak. Jika tidak, mungkin peran good cop bad cop yang terlihat adalah fenomena gunung es, dimana didalamnya terdapat masalah disfungsi dinamika keluarga,” jelas Thomas Schofield, asisten profesor Family Studies di Iowa State University.   

Kerjasama ini bukan berarti memaksa pihak yang lebih tegas untuk berubah menjadi lebih lembut, atau yang halus dipaksa menjadi lebih galak, melainkan kedua pasangan dengan karakter berbeda tersebut harus menentukan bersama “titik tengah”nya. Titik ini merupakan batas dimana ketegasan tidak berubah jadi kekerasan dan kelembutan bisa tetap menjalankan kedisiplinan. 

Contohnya, jika ayah dengan tegas melarang anak untuk memakan kudapan yang tidak sehat, ibu bisa dengan sabar menjelaskan pada anak mengenai dampak buruk makanan tersebut. Alihkan perhatiannya dengan mencari makanan alternatif atau melakukan aktivitas lain yang ia senangi.  Dengan ini, semua pihak bisa tetap menjadi diri sendiri tanpa harus melempar peran good cop atau bad cop pada pasangannya. Dan yang penting, disiplin tetap ditegakkan.