Mungkin, hampir semua dari kita pernah memiliki rahasia sewaktu remaja, yang khusus kita sembunyikan dari orang tua. Membolos, meminjam barang orang tua tanpa izin, hingga pacaran adalah beberapa diantaranya. Alasannya, malu atau takut dimarahi. Apalagi, zaman dahulu pola komunikasi orang tua dan anak masih banyak yang searah. Sekarang, kita sebagai orang tua harus siap jika anak remaja kita melakukan hal yang sama. 

“Tapi, saya sudah terbuka, lho dengan anak-anak. Masa mereka masih rahasia-rahasiaan segala?”

Simak yuk hal-hal apa saja, sih yang enggan diceritakan remaja pada orang tua berikut alasannya.

Cerita asmara

Bagi remaja, bercerita mengenai masalah asmara kepada orang tua membutuhkan keberanian yang besar. Bisa jadi, ia bisa memprediksi bahwa kita akan menasehatinya agar tidak berpacaran dulu atau malah menertawakan perasaannya. Terlalu banyak perubahan pada masa puber yang harus dihadapi remaja yang membuat bingung, malu, bahkan tidak percaya diri.

Solusi: Dengarkan cerita mereka dan hindari bersikap meremehkan ataupun emosional meskipun kita tidak setuju. Berikan pertanyaan pancingan yang membuat mereka berpikir lebih jauh, lalu buat kesepakatan tentang sampai mana mereka dapat bergaul dengan lawan jenis. Agar remaja tidak malu bercerita lagi tentang masalah asmara, hindari “membocorkan” hal tersebut pada orang lain atau membuatnya menjadi bahan lelucon.

Masalah sekolah

Remaja tahu, bahwa orang tua berharap anaknya belajar dengan baik dan memiliki nilai yang baik. Padahal, ada kalanya sekolah terasa membosankan dan jiwa remaja mereka lebih tertarik untuk membolos di mal, menyontek kala ujian, bahkan merisak junior di sekolah. Hal semacam ini bagi mereka layak dirahasiakan karena melanggar peraturan. 

Solusi: Rutinlah bertanya tentang kegiatan anak di sekolah. Beri respon yang baik, antara lain melakukan kontak mata, tidak sambil memegang ponsel, sehingga anak tahu kita tidak sekedar basa-basi. Jika mereka bercerita tentang hal-hal diatas, ada baiknya ceritakan pula bahwa saat bersekolah dulu kita pernah melanggar peraturan, misalnya. Ajak anak berdiskusi tentang konsekuensinya, namun tahan diri untuk tidak langsung memberi solusi agar mereka terlatih untuk menemukan solusinya sendiri.

Hal terlarang

Merokok, narkoba, seks bebas, pornografi jelas menjadi top secret bagi remaja. Selain belum sesuai usia, hal-hal tersebut melanggar norma, agama, dan hukum. Hormon remaja mendorong mereka memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap hal berbahaya, termasuk dengan cara mencobanya. Orang tua jelas akan marah jika mengetahui hal ini. Hati-hati, remaja bisa sangat rapi menyembunyikan hal terlarang semacam ini. 

Solusi: Sebaiknya, orang tua memberikan informasi detil mengenai hal-hal di atas sejak dini sehingga anak tahu bahayanya. Jika kita mengenal anak kita dengan baik, perubahan perilaku sedikit saja dapat menjadi sinyal untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Hindari langsung memarahi, karena akan membuatnya semakin tertutup. Perlu pula diskusikan tentang batasan privasi terkait penggunaan gadget. 

Jika anak sudah terlanjur tertutup, apa yang harus dilakukan? 

Menurut Anna Surti Ariani, M.Psi., M.Si., Psikolog, biasanya isu ini berasal dari orang tuanya, sehingga orang tua introspeksi perlu terlebih dulu mengapa anaknya tidak mau terbuka. Orang tua misal sering mengkiritik, memarahi, sukar percaya. Ketidakharmonisan kedua orang tua juga dapat membuat anak merasa tidak didengar.  Minta feedback dari anak jika perlu, dengan menanyakan apa yang dirasakan si anak saat bercerita kepada kedua orang tuanya. Perlu digaris-bawahi bahwa penting bagi orang tua untuk tidak bersikap defensif. 

Namun, perlu juga kita pahami bahwa tidak semua yang dirahasiakan remaja adalah hal yang penting bagi kita. Apa benar kita perlu tahu semua informasi yang ia perbincangkan dengan sahabatnya di WhatsApp? Jika kita terlalu “kepo” tentang semua hal dalam hidupnya dan melanggar batas privasinya, misal dengan selalu mengecek HPnya, bersiaplah untuk kehilangan rasa percaya (trust) dari anak. Ingat, kepercayaan adalah modal utama orang tua agar anak mau bersikap terbuka dan berbagi hal-hal penting dalam hidupnya. Jadi, bijaklah dalam menentukan apa yang perlu kita ketahui dari anak remaja.