Bertambahnya usia anak maka perubahan pun akan terjadi. Mulai dari tahap transisi secara fisik, emosi dan kognitif (berfikir, mengingat, berimajinasi dan mempelajari sesuatu). Hal ini tentu akan mengubah cara pandang anak (yang kini disebut remaja) akan banyak hal, tak terkecuali urusan seksual. Faktor lingkungan seperti sekolah, teman, juga pelajaran sekolah memiliki peran dalam membentuk pola pikir tentang pendidikan seks. Disinilah kemudian peran orangtua sangat penting untuk mengedukasi secara terarah agar anak menjadi paham, baik apa yang dilakukan maupun dampak yang ditimbulkan. 

Normalkah remaja memiliki hasrat berhubungan seksual sebelum menikah?

Usia remaja ditandai dengan adanya masa puber, dimana organ-organ seksual sedang berkembang. Didalamnya terdapat kelenjar gonad (yang berhubungan dengan seks) yang memiliki pengaruh utama dalam masa puber. Tak hanya perkembangan kasat mata, namun perkembangan tak kasat mata seperti ketertarikan dan hasrat seksual juga dipengaruhi oleh kelenjar gonad ini. 

Diluar itu, ada pula alasan lain dibalik hasrat remaja melakukan hubungan seksual, seperti yang dilansir oleh peer challenge.com berikut;

1. Tekanan sosial

Layaknya manusia sebagai makhluk sosial, banyak remaja mengalami tekanan dari teman-teman sebayanya untuk aktif secara seksual. Tidak ingin dicap berbeda atau ditolak dengan teman sebayanya membuat kebanyakan remaja memilih untuk mengikuti “tren”. Rendahnya tingkat percaya diri remaja ini yang kemudian menjadi ancaman bagi dirinya karena remaja pada tahap ini belum bisa menimang konsekuensi yang akan terjadi secara bijak.

2. Desakan pasangan 

Remaja memiliki kepekaan rasa yang dipengaruhi oleh hormon. Disinilah peran emosi sangat berpengaruh, terutama saat pasangan mengajak dan ia terlalu takut untuk kehilangan. Alih alih berkata tidak, ia akan cenderung mengikuti desakan pasangan untuk berhubungan tanpa berfikir akan dampak yang terjadi.

3. Informasi media yang tidak tersaring   

Saat remaja dihadapkan dengan pesan seksual lewat film, acara televisi, iklan majalah atau bahkan papan iklan di jalan, stimulus seksual akan timbul dan mengakibatkan remaja semakin penasaran dan ingin mencari tau lebih dalam. 

4. Kurangnya rasa cinta dalam keluarga 

Remaja yang memiliki hubungan kurang baik dengan orangtuanya cenderung mencari kebutuhan akan perasaan diluar rumah. Ketika ia tidak mendapatkannya di lingkungan keluarga, khususnya orangtua, maka remaja akan dengan mudah menggantungkan kepada orang yang dikasihinya. Dalam hal ini pasangan. Ketika hubungan seksual tidak hanya berlandaskan fisik namun melibatkan emosi, remaja akan dengan mudah melakukan tanpa mempertimbangkan resiko. 

Apa saja resiko yang bisa ditimbulkan dari hubungan seksual sebelum menikah? 

Tentunya ada banyak resiko yang ditimbulkan dari hubungan seks sebelum menikah. Baik secara fisik maupun sosial. Saat seseorang diketahui telah berhubungan seksual sebelum menikah, pandangan buruk dan gosip tak mengenakan akan menjadikannya reputasi yang buruk. Tak hanya pada anak, terlebih pada orangtuanya. Rasa malu, bersalah, cemas, takut, hancur akan menyebabkan penurunan kesehatan mental pada remaja yang bisa berujung fatal.  

Dilain itu, tentu hubungan seksual bisa berakibat fisik. Hamil di usia dini, misalnya. Ketika organ seksual belum berkembang sempurna, kehamilan di usia dini memiliki resiko yang cukup tinggi. Tak hanya itu, penyakit seksual menular juga bisa terjadi. Mulai dari infeksi saluran kemih, hingga HIV AIDS yang mematikan. 

Lalu, apa yang harus orangtua lakukan? 

Ajarkan pendidikan seks pada anak sedini mungkin. Jika anak sudah beranjak dewasa, berikan pengarahan sesuai dengan usianya. Berikan tontonan informatif akan organ reproduksi dan bagaimana interaksinya dengan lawan jenis. Tak hanya itu, berikan informasi akan dampak dan bahaya berhubungan seksual di usia dini dan diluar pernikahan. Berikan pula atensi dan kasih sayang yang cukup pada anak, sehingga ia tidak mencari kebutuhan emosional yang berlebihan diluar terutama pada lawan jenis yang ia kagumi. Tanamkan agama dan adat istiadat yang baik. Awasi anak dalam ranah sosial media dan internet, beri edukasi akan adanya tontonan yang boleh dan tidak boleh ia lihat. Terakhir, jaga komunikasi yang baik antar orangtua dan anak. Ini adalah dasar yang paling penting untuk menjaganya saat anak sedang diluar pengawasan orangtua.