Ana (36 tahun) seorang ibu dari tiga orang putri mengaku khawatir melihat Dina (12 tahun) anak remajanya yang mulai diam-diam memiliki ketertarikan pada lawan jenis. “Bukan soal naksirnya,” ujar Ana. “Tapi dia tidak mau terbuka, saya taunya dari percakapan antara dia dan teman perempuannya di direct message Instagram curhat soal laki-laki di sekolahnya.”

Lain lagi dengan Sasha (40 tahun) yang khawatir karena Rani (16 tahun) anak semata wayangnya sudah berani minta ijin untuk pergi nonton konser berdua dengan teman laki-laki yang selama ini Ia kagumi. “Kalau saya ijinkan, rasanya belum cukup umur tapi kalau saya larang takut malah sembunyi di belakang,” keluhnya. Ini hanya sebagian dari kekhawatiran orangtua terutama Ibu akan tingkah laku anak remajanya yang mulai menyukai bahkan berinteraksi dengan lawan jenis. Ini yang kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana dan sejauh mana peran orangtua dalam menyikapi usia remaja yang mulai berinteraksi dengan lawan jenis?

Memiliki ketertarikan dengan lawan jenis merupakan hal yang lumrah terjadi pada anak yang beranjak dewasa. Dalam hal ini, remaja. Ini dipicu oleh kegiatan hipofosis atau kelenjar otak yang merangsang kerja hormon mulai naik. Saat ini terjadi, orangtua harus mulai waspada dan mengenali beberapa hal penting berikut. Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., membeberkan tipsnya. 

Kapan, sih anak saya boleh pacaran? 

Tidak bisa dikatakan kapan waktu terbaiknya, tergantung nilai-nilai yang dianut orang tua. Hal terpenting, orangtua harus menyampaikan apa saja hal yang membuat mereka merasa keberatan lalu bernegosiasi dan berdiskusi dengan anak tentang batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. 

Saya menghargai privasi, tapi saya perlu tau siapa yang sedang Ia suka. 

Disini komunikasi orangtua dan anak sangat diperlukan. Orangtua harus mendiskusikan dan membentuk kesepakatan dari awal dengan anak tentang batasan privasi. Misalnya, orangtua boleh mengecek percakapan di hp anak atau di Instagram bersama-sama. Dengan catatan, anak harus jujur dan tidak boleh ada yang ditutupi. Kapan bolehnya? Sesuai kesepakatan bersama, di akhir pekan, misalnya. Diluar itu, orangtua harus bisa menjaga untuk tidak mengecek hp anak apalagi diam-diam saat anak sedang tidak menggunakan. Jika ada hal yang tidak diprediksi terjadi, atau salah satu melanggar kesepakatan maka akan ada hukuman yang adil untuk keduanya, atau bisa kemudian membuat kesepakatan baru yang dirasa lebih nyaman dan menguntungkan kedua belah pihak.

Anak saya tiba-tiba bertanya tentang hubungan seks. Saya harus jawab apa? 

Pertama, jangan panik dan terpancing emosi. Usahakan tetap tenang lalu perlahan tanyakan pada anak, kenapa Ia ingin tau, apa yang ingin Ia tau dan sejak kapan Ia ingin mengetahuinya. Orangtua tak perlu menjawab secara personal (menurut pengalaman pribadi) atau mempersonalisasi. Dari jawaban anak, orangtua bisa mendapatkan sumber informasi dan seperti apa informasi yang didapatkan untuk kemudian menjelaskan dan meluruskan informasi yang mungkin keliru. Beri apresiasi pada anak karena Ia mau terbuka. 

Anak saya memiliki indikasi pacaran yang melibatkan kegiatan seks. Saya harus bagaimana?

Kumpulkan dulu bukti-buktinya (dari yang orangtua lihat, yang diceritakan anak maupun yang didengar dari orang lain) lalu buktikan kebenarannya. Tanyakan pada anak secara gamblang dan terbuka tanpa menghakimi. Beri waktu anak untuk menjelaskan, lalu beri tanggapan setelahnya. Jika memang terbukti anak memiliki indikasi ke arah yang negatif maka orang tua perlu bersikap lebih ketat. Dimulai dari menjelaskan konsekuensi dan bahaya yang mungkin terjadi jika anak melakukan kegiatan seks diluar nikah. Lalu jelaskan aturan dan kesepakatan membawa teman ke dalam rumah atau kamar. Memastikan rumah mudah terdeteksi, kontrol satpam (petugas keamanan), CCTV atau bekerjasama dengan tetangga. Melakukan pengawasan gadget anak (dengan kesepatakan bersama, tentunya), mengenal dan berkomunikasi dengan teman-teman anak sekaligus berhubungan baik dengan orangtuanya.

Komunikasi dua arah yang terjalin baik antara orangtua dan anak adalah satu hal paling krusial yang harus dilakukan untuk menyikapi perkembangan remaja. Selalu awasi pergaulan dan beri informasi yang jelas akan dampak interaksi lawan jenis yang berlebihan pada remaja sehingga mereka merasa bisa bertanggung jawab akan dirinya ketika tidak bersama atau dalam pengawasan orangtua.