Maya (47) sedikit bingung dengan perilaku kedua anak remajanya. Adhitya (17) yang mulai menggunakan password untuk mengakses HP nya. Alasannya, teman-temannya kerap usil membuka-buka HPnya tanpa izin. Sementara Kalina (14), putrinya yang masih SMP, juga menggunakan password. Berbeda dengan kakaknya yang mau memberi tahu password gadgetnya kepada ibunda, Kalina tidak. Setiap kali Maya mencoba-coba mengetikkan password, yang muncul di layar adalah, “Haha..you don’t know my password!”

Ia pun bingung bagaimana harus menghadapi anak remajanya. Ada sebersit rasa sedih ketika ia tahu bahwa anak-anaknya menutupi sesuatu. Di satu sisi, ia tahu bahwa remaja mulai sadar mereka membutuhkan privasi. Di sisi lain, ia kuatir hal yang menjadi privasi mereka berkaitan dengan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Seberapa pentingkah “privasi” mereka itu hingga harus disembunyikan dari orang tua?

Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, hal yang biasa ditutup-tutupi oleh anak adalah hal-hal utama yang orang tuanya paling tidak suka dan tidak toleran. Namun, bisa juga alasannya berasal dari diri anak, seperti:

1. Anak merasa hal tersebut tidak penting untuk diceritakan.

2. Anak belum bisa menerima kejadian yang menimpa dirinya (denial)

3. Anak belum menemukan cara yang tepat untuk memberitahu kedua orang tuanya

4. Anak menyembunyikan sesuatu yang bertentangan dengan kesepakatan atau nilai-nilai dalam keluarga.

Selain itu, persepsi anak terhadap orang tua juga dapat menjadi alasan. Misalnya, Ia merasa orangtuanya tidak peduli, orangtua akan memberi hukuman berat, dan orangtua sering mengkritik. Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? 

 

Toleran dan Terbuka

Jika kita menginginkan anak bersikap terbuka, maka kita pun harus bisa menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai situasi yang sedang dialami oleh anak. Cara memulainya bisa dengan obrolan santai tentang apa yang terjadi di keseharian. Tanyakan pada anak apa saja yang Ia lakukan di sekolah, apa yang lagi “in” di dunianya atau bisa juga bertanya bagaimana interaksi dengan temannya.

Begitupun orangtua, tak ada salahnya bercerita tentang apa yang terjadi di kantor atau apa yang orangtua lakukan selama anak di sekolah. Lakukan ini setiap hari. Dengan begitu,  peluang anak leluasa berkomunikasi pada orangtua akan lebih terbuka.

 

Hindari Memarahi Anak

Taukah Anda, bahwa anak di masa perkembangan memiliki sel otak yang jumlahnya lebih dari 10 trilyun. Tiap bentakan atau amarah orangtua mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otaknya sekaligus! Maka, hindari marah. Ajak anak berdiskusi dengan memberikan pancingan yang membuatnya berpikir. Kemudian, alih-alih menasehati dan memarahi, berikan mereka kesempatan untuk menilai dan berpikir atas perilaku mereka.

 

Kuasai Teknik Diskusi

Orangtua juga perlu menguasai teknik berdiskusi yang tepat. Di antaranya dengan memberikan pertanyaan yang tepat dan bertahap. Saat si anak remaja menghindar untuk menjawab atau memberikan jawaban yang menggantung, maka orangtua dapat memberi pertanyaan pancingan berikutnya yang membuat mereka berpikir lebih jauh (misal, dampak dan risiko atas keputusannya). Setelah anak terbuka dan memberikan jawaban yang pas, beri apresiasi.