Satu dari enam anak perempuan atau sebanyak 340.000 anak per tahun di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Angka ini cukup mengkhawatirkan karena aksi melakukan hubungan seksual di usia dini dimana alat reproduksi belum matang dapat menyebabkan berbagai masalah, diantaranya adalah kerentanan tinggi terkena infeksi dan juga kehamilan di usia dini.

Sebelum memutuskan untuk menikah di usia yang terlalu muda atau menikahkan anak di usia yang belum matang, baiknya cari tau dulu dampak hubungan seksual ketika alat reproduksi belum matang. 

Menurut data yang diambil dari Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada tahun 2012, sekitar 25% wanita menjalankan pernikahan dibawah usia 18 tahun. Walaupun angka pernikahan di bawah usia 15 tahun menurun tiap tahunnya, namun pernikahan di usia 16 dan 17 tahun kian meningkat – ini yang kemudian menjadikan perlindungan untuk anak perempuan menurun saat mencapai usia 15 tahun. 

Saat perempuan mencapai usia 8 tahun, Ia mengalami rangkaian perubahan pada tubuh yang disebut dengan pubertas. Pubertas memiliki karakteristik tubuh dewasa dan mempunyai kapasitas untuk bereproduksi. Hal ini ditandai dengan perubahan pada tubuh seperti pertumbuhan payudara, bulu di sekitar kemaluan, menstruasi dan lainnya.

Satu hal yang penting diketahui di masa tersebut adalah perubahan serviks. Serviks atau mulut rahim terbagi menjadi dua bagian yaitu luar dan dalam. Serviks bagian dalam akan mengalami perubahan sel dari jenis kolumnar ke gepeng pada masa pubertas.

Pada masa transisi ini, perempuan akan lebih rentan terkena infeksi ketika melakukan hubungan seksual. Infeksi yang disebutkan disini dapat mencakup bakteri, jamur hingga virus seperti Human Papilloma Virus (HPV) yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Hubungan seksual di usia dini, bukan berarti kemungkinan hamil menjadi minim. Apa bahayanya? Pada tubuh yang masih belum dewasa atau siap mengandung, diperkirakan rahimnya pun belum siap.

Rahim yang belum matang dan kekurangan darah (anemia) dapat menghambat pertumbuhan janin. Jika panggul ibu masih belum cukup lebar, maka ketika dipaksa melahirkan dapat terjadi sobekan rahim atau terjadi persambungan antara vagina dan kandung kemih dikarenakan luka pada vagina. Jika itu terjadi, operasi cesar menjadi opsi. 

Lalu usia berapa yang optimal untuk memiliki anak, ya? Jawabnya, usia 20 – 35 tahun.

Kenapa, karena di usia ini, alat reproduksi mulai matang secara sepenuhnya. Di usia inipun seseorang dianggap mampu secara psikologis untuk mengemban tanggung jawab dalam membina keluarga dan memiliki anak.

Walaupun tentu ada kemungkinan setiap orang memiliki latar belakang dan kasus yang berbeda. Karenanya, yuk bekali diri dan anak dengan informasi tentang alat reproduksi sejak dini.

Apa saja, sih alat reproduksi itu, bagaimana cara menjaga kebersihannya dan menjaga sebagai sesuatu yang bersifat pribadi. Orang tua harus membangun kepercayaan dan komunikasi yang terbuka dengan anak, sehingga mereka akan lebih leluasa berdiskusi untuk sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap tabu.

Lebih dari itu, anak pun akan dapat berpikir secara luas tentang dampak dan bahaya melakukan hubungan seksual di usia dini atau ketika alat reproduksi belum matang. 

 



Konsultasi dengan dokter