“Syok, tapi kemudian aku tanya dia dapet konten kaya gitu dari mana?”

Ian (33), PNS, ibu dari Kenar (6)

 

 “Pasti pertama panik, ya. Tapi aku nggak akan nyalahin mereka, karena malah akan jadi penasaran dan mengulangi  lagi. Jadi, kami membuat kesepakatan untuk tidak lihat yang ‘ jorok-jorok’.”

Zulira (46), pegawai bank, ibu dari Fabian (8)

 

“Walaupun secara teori harusnya diajak bicara baik-baik dan diberi pemahaman, tapi reaksi secara riilnya aku pasti reaktif, marah, dan langsung menutup segala akses.”

Arizona (33), dosen, ibu dari Nayla (7)

 

“Anakku sudah aku ceramahi sebelum pegang HP. Jadi begitu lihat  tontonan itu dia langsung taruh HPnya atau klik skip. Dia tau dia belum boleh nonton.”

Ita (34), wiraswasta, ibu dari Arcel (6)

 

“Saya suruh hapus dan jangan diulangi lagi. Beri pengertian kalau film porno bisa merusak mental.”

Farida (47), ibu dari Reza (14)

 

“Saya akan lebih banyak komunikasi dengan anak selama di rumah dan cari tau kenapa ada konten tersebut di HPnya.”

Wienny (45), ibu dari Karin (13)

 

“Sejauh ini pembiasaan mengklasifikasi ciuman bibir dan ‘topless’ adalah ‘saru’ (jorok) dan hanya boleh dilakukan saat menikah cukup manjur bagi anak saya. Ketika ada adegan demikian, anak-anak saya langsung teriak bilang filmnya ‘saru’!”

Unggul (35), ayah dari Fadhil (7)

 

Menilik komentar diatas mungkin sebagai orang tua kita bingung bagaimana cara bersikap saat kejadian tersebut menimpa anak kita. Reaksi panik, kaget, sekaligus marah bisa muncul ketika anak melihat gambar maupun adegan yang belum seharusnya dilihat. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Menurut Novi Poespita Candra, M.Si, Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM dan Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua ketika memergoki anak melihat konten porno, yaitu:

  1. Tenang. Pastikan kita tenang dan jangan memperlihatkan gestur panik atau marah pada anak agar terjadi frekuensi positif saat berdiskusi. Tunggu sampai kita benar-benar siap untuk berinteraksi dengan anak.
  2. Jika sudah tenang, kita bisa masuk ke tahap assessment dimana orang tua bisa secara perlahan mendekatkan tubuh dengan anak, berbicara dengan tekanan suara rendah, menanyakan apa yang baru saja dilihat. Tanyakan dari mana mereka mengetahui film tersebut sampai apa yang mereka rasakan saat menonton film tersebut.
  3. Setelah anak terlihat aman untuk berdiskusi, orang tua bisa memulai membuka dialog.  Tanyakan apakah anak merasa nyaman melihatnya, apakah menurut mereka tontonan tersebut bermanfaat, dan apa akibatnya jika terlalu sering menontonnya.
  4. Orang tua bisa mencari tau dampak negatif dari konten porno secara online bersama anak.
  5. Ada baiknya, diskusi diulang pada kesempatan lain. Ajak anak untuk berperan memberikan masukan bagaimana cara mengurangi rasa ingin tau atau rasa ingin melihat lagi konten tersebut.
  6. Selain itu, kita juga bisa membuat beberapa kebijakan, misalnya manajemen penggunaan gadget, menambah aktivitas fisik anak, dan interaksi emosi untuk mengganti kebutuhan dopamine (hormon kesenangan yang biasanya mereka dapat dari menonton konten porno).

Tentunya,  hal tersebut diatas akan jauh lebih baik jika kita sudah membekali pendidikan seks sejak dini dan membangun kedekatan emosi yang baik dengan anak. Dengan begitu, anak bisa lebih waspada dengan tontonan yang ‘tidak biasa’ dan akan lebih mudah untuk berdiskusi dengan orang tua.