Kata orang, saat pertama kali kita melihat bayi kita lahir adalah momen paling membahagiakan. Rasa lelah dan sakit saat persalinan seketika sirna saat melihat wajah mungilnya. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, dan janji untuk selalu mencintainya apapun yang terjadi.

Namun, bagi sebagian ibu baru, rasa bahagia itu tidak berlangsung lama. Desti Putri (33 tahun), mendadak sedih tanpa sebab pasca kelahiran anak pertamanya sekitar tujuh tahun lalu. Ia sempat dibuat bingung dengan perasaan ini.

“Sekitar lima hari setelah melahirkan, saya pulang. Begitu sampai di rumah, melihat begitu banyak perubahan yang terjadi, muncul rasa tidak nyaman. Apalagi setelah Maghrib, saya bisa tiba-tiba menjadi sedih dan menangis”.

Kejadian serupa terulang saat ia melahirkan putri keduanya empat tahun kemudian, namun hanya berlangsung beberapa hari. Saat itu, obat yang harus dikonsumsinya pasca operasi caesar habis dan menyebabkan luka operasinya sakit luar biasa. 

Ia pun tidak dapat melakukan apa-apa. Padahal, anak sulungnya merengek minta makan hingga jatuh tertidur. Desti pun merasa sedih luar biasa dan hanya bisa menangis sejadinya ketika suaminya pulang kerja.

Belakangan, ia baru tahu bahwa apa yang ia alami tersebut dapat dikategorikan sebagai baby blues. Baby blues atau postpartum blues adalah perasaan emosional yang dirasakan ibu setelah melahirkan. 

Menurut Anggiastri Hanantyasari Utami, M.Psi., Psikolog dari Kemuning Kembar, beberapa ciri-ciri baby blues antara lain:

1. Sedih

2. Kerap menangis

3. Merasa tidak berdaya

4. Tidak percaya diri

5. Mudah lupa

6. Perasaannya cenderung sensitif

7. Memiliki kecemasan tidak bisa mengasuh bayinya

Perasaan ini biasanya muncul 2-3 hari setelah melahirkan dan berlangsung kurang lebih dua minggu. Jika tidak ditangani dengan baik, baby blues dapat berkembang menjadi post partum depression (PPD). PPD biasanya muncul pada bulan kedua atau ketiga dan berlangsung selama 1-12 bulan.

 

Lalu, bagaimana cara agar baby blues ini tidak berlanjut?

Pada prinsipnya, ibu baru membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekatnya, seperti suami, orang tua, kerabat, atau mungkin sahabat. Ibu baru perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya serta diterima segala keluh kesahnya.

“Menurut saya, terkadang hal sederhana seperti memiliki teman untuk bercerita, berkeluh kesah dan teman mengasuh bayi menjadi hal yang sangat membantu. Selain itu, kesiapan ibu terkait hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan dan skill mengasuh bayi menjadi salah satu faktor penting,” ungkap Anggiastri.

Bila diperlukan, penanganan lebih lanjut dapat dilakukan seperti menghubungi psikolog, psikiater, atau konselor.

Dalam kasus yang dialami Desti di atas, dukungan suami baru ia rasakan pada saat baby blues anak kedua. Hal tersebut dikarenakan pada anak pertama, ia dan suaminya masih sama-sama bingung dengan apa yang ia alami. 

Saat anak kedua lahir, suaminya sudah lebih siap memberikan dukungan moril dan bantuan berbagi tugas rumah tangga mengingat mereka tidak memiliki ART maupun keluarga sebagai support system. 

Namun, yang membuat baby blues-nya seketika lenyap adalah ketika suaminya memeluknya dan ia menangis dan mengucapkan, “Semua akan baik-baik saja, tenang ada aku..”

 

Dapatkah baby blues kita cegah?

Ya. Sebagai pencegahan, proses konsultasi dan kesiapan sebelum melahirkan dapat dilakukan untuk meminimalisir gejala yang muncul dari baby blues. Paling tidak, ketika seseorang mengalami baby blues mereka menyadari sedang berada dalam fase tersebut. Kesadaran ibu dengan fase yang sedang dihadapi pasca melahirkan ini menjadi jalan pembuka yang baik untuk mengelola diri.