Perencanaan keuangan adalah ilmu yang seharusnya semua orang mengerti. Karena dalam hidup, kita akan berinteraksi dengan uang terus menerus. Saat menikah, setiap pasangan pasti akan merencanakan keluarganya, mau punya berapa anak, mau tinggal dimana, tetapi seringkali lupa membahas soal perencanaan keuangan. Padahal semua aspek dalam pernikahan pasti membutuhkan uang, mulai dari kehamilan, kelahiran, biaya kesehatan, dan sekolah anak.

Karena itu, perencanaan keuangan keluarga mutlak dibutuhkan. Dengan memahami perencanaan keuangan, kita dapat mengatur arus kas, menekan nafsu keinginan, fokus pada kebutuhan, memiliki sisa uang bulanan, sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan seperti membeli rumah, membiayai sekolah anak, atau pergi ibadah haji.

Sebenarnya, merencanakan keuangan keluarga tidak sesulit yang dibayangkan. Asalkan kita memiliki prioritas, disiplin menjalankannya, serta hidup sesuai kemampuan, keuangan keluarga kita akan aman. Berikut ini adalah 5 prinsip sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatur keuangan keluarga.

 

Pengaturan Cash Flow

Cash flow atau aliran uang keluarga dapat dilihat dari seberapa banyak penghasilan kita dan berapa banyak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Cash flow ini dapat diatur dengan cara mengutamakan kewajiban terlebih dahulu. Misalnya, saat gajian, bayarkan terlebih dahulu pajak dan zakat. Hari berikutnya, bayar cicilan maupun hutang. 

Kemudian, sisihkan untuk tabungan jika kita memiliki tabungan pendidikan/asuransi/haji/pensiun/liburan. Setelah itu, saatnya membayar tagihan bulanan seperti SPP, listrik, air, gaji ART, dll. Setelah semua kewajiban terpenuhi, baru kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Membuat Budget Sesuai Pemasukan

Dengan prinsip cash flow di poin pertama, kita dapat merencanakan keuangan kita (membuat budget) sesuai dengan penghasilan. Berikut adalah contohnya:

• Cicilan hutang = maksimal 30% 

• Menabung = minimal 10% 

• Zakat/Perpuluhan = 2.5% - 10% 

• Rumah tangga = 30% 

• Anak = 15% 

• Liburan         = 5%

 

Jika anda memiliki kesulitan disiplin dengan budget yang telah ditetapkan, coba metode amplop. Meskipun nampak kuno, metode ini sebenarnya masih relevan sampai sekarang. Dengan menggunakan amplop disertai judul alokasinya, keuangan keluarga akan lebih tertata rapi sesuai kegunaan masing-masing. Mengapa harus dipisahkan? Karena uang sifatnya seperti air. Saat sudah bercampur menjadi satu rentan digunakan untuk keperluan yang bukan peruntukannya.

Menabung juga wajib dilakukan, kalau perlu dipaksakan di awal gajian minimal sebesar 10% dari gaji bulanan. Segera pisahkan dari rekening harian karena uang sangat mudah bercampur. 

Pengacau utama dari kegagalan menabung biasanya adalah hutang. Boleh saja berhutang, tapi cicilan hutangnya tidak melebihi 35% dari gaji bulanan. Dan, hutang produktif (KPR) lebih berguna daripada hutang konsumtif (kartu kredit dan kredit tanpa agunan).

 

Rajin Mencatat

Agar tidak lupa kemana uang “pergi”, biasakan mencatat pengeluaran sesegera mungkin. Anda bisa menggunakan buku khusus maupun aplikasi di ponsel. Selain dapat mengetahui dengan pasti untuk apa saja pengeluaran keluarga pada bulan tersebut, Anda juga dapat berhati-hati jika pada pertengahan bulan catatan keuangan sudah menunjukkan lampu kuning.

 

Komunikasi Dengan Pasangan

Membicarakan uang dengan pasangan adalah kunci utama agar dapat sejalan, sevisi, semisi, dalam pengelolaan keuangan sehingga tujuan dan mimpi keluarga dapat tercapai. Jika hanya suami yang bekerja, usahakan agar istri juga mengetahui besaran gaji suami. 

Tentukan bersama alokasi keuangan keluarga untuk kebutuhan harian, besaran tabungan, hingga rencana jangka panjang seperti membeli rumah maupun pendidikan anak. Jika masing-masing memiliki hobi atau kebutuhan tersier yang berbeda, sepakati anggaran untuk masing-masing agar tidak menjadi sumber perselisihan 

 

Review Keuangan Secara Berkala

Disiplin menerapkan prinsip keuangan keluarga tentu tidak mudah, khususnya jika penghasilan tidak tetap, ataupun penghasilan lebih kecil daripada pengeluaran. Yang diperlukan adalah melakukan review keuangan secara berkala, agar dapat mengetahui kondisi keuangan keluarga kita. Jangan ragu untuk mengubah alokasi anggaran keuangan keluarga selama cicilan tidak melebihi 35% pendapatan. 

Nah, sekarang saatnya kita mengatur keuangan keluarga kita agar hidup lebih aman dan terncana.

 

Edited by: Menur Adhiyasasti