Siapapun yang memiliki anak yang memasuki masa puber pasti dihinggapi rasa khawatir tentang bagaimana kelak anak mereka bergaul. Tingginya angka seks bebas, kehamilan tak diinginkan, hingga kasus pelecehan seksual menjadikan orang tua zaman sekarang lebih protektif.

Teknologi kerap menjadi kambing hitam kasus pergaulan bebas. Padahal, orang tua memiliki peran yang lebih besar dalam menangkal pengaruh buruk teknologi, salah satunya dengan melakukan pendidikan seks pada anak sejak mereka belum memasuki masa puber. 

Masa puber adalah periode dimana anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual, dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan reproduksi. Pada anak perempuan, kematangan seksual ini ditandai dengan terjadinya menstruasi dan pada anak laki-laki ditandai dengan terjadinya mimpi basah. Pada masa inilah keingintahuan remaja akan masalah seksual meningkat. 

Idealnya, orang tua berperan sebagai sumber informasi utama remaja tentang seks, seperti yang tecermin dari hasil riset “Studi Kualitatif Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia” yang diselenggarakan oleh UGM dan Johns Hopkins Center for Communication Program. Riset yang dilakukan tahun 2017 di 9 provinsi di Indonesia tersebut menyatakan bahwa sumber informasi yang menjadi rujukan utama dan pertama bagi mayoritas remaja usia 10-14 tahun tentang kesehatan reproduksi, terutama dalam kaitannya dengan masa puber dan menjaga diri dari kehamilan tak diinginkan (KTD) adalah orang tua. Baik remaja laki-laki ataupun perempuan memilih orang tua, terutama ibu, sebagai tempat bertanya terkait kesehatan reproduksi.

Sayangnya, penelitian lain menunjukkan bahwa orang tua ternyata cenderung menghindar ketika anak ingin mendiskusikan masalah seksual. Lantas, bagaimana sebaiknya orang tua menjalankan perannya saat anak memasuki masa puber?

 

Sebagai Pendidik, Beri Penjelasan Secara Detil

Masa puber biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Menjelang memasuki masa puber, sebaiknya orang tua sudah memberikan penjelasan yang detil pada anak tentang apa yang sebentar lagi akan mereka alami. Jika perlu, ibu dapat memperkenalkan remaja putri pada pembalut dan ayah dapat memberi gambaran rinci tentang mimpi basah. Berikan pula pemahaman bahwa organ reproduksi mereka mulai berfungsi. Itu tandanya hubungan seksual dengan lawan jenis dapat menyebabkan kehamilan. 

Pada usia ini, anak biasanya masih belum merasa malu untuk bercerita apapun pada orang tua. Orang tua dapat berperan sebagai pendidik melalui penjelasan secara ilmiah dengan logika sederhana sehingga mudah diterima oleh anak. Sebelum melakukan pendidikan seks pada anak, bekali diri kita dengan ilmu agar siap menjawab berbagai macam pertanyaan mereka, termasuk bagaimana kehamilan dapat terjadi. Jika mereka puas dengan jawaban yang kita berikan, besar kemungkinan mereka untuk menjadikan kita sumber rujukan atas segala permasalahan mereka ketika memasuki masa puber. Namun, jika kita tetap merasa canggung untuk menjelaskan hal berbau seksual pada anak, kita dapat menggunakan buku maupun video tentang sex education yang sesuai dengan usia anak.

 

Sebagai Pendamping, Jadilah Teman

Jika orang tua mampu membangun kedekatan dengan anak remaja mereka, mendampingi mereka selama masa puber akan terasa lebih mudah. Melakukannya tentu butuh usaha mengingat remaja berada dalam fase transisi menuju manusia dewasa yang mulai memiliki prinsip sendiri. Karena itu, sering-seringlah mengajak mereka mengobrol sesibuk apapun kita. Hindari terlalu sering mengkritisi, perbanyak mendengarkan. Jadilah temannya dengan memperbincangkan apa yang sedang menjadi minatnya, mengenali teman-temannya, jika perlu hang out berdua saja dengan anak. Dengan begitu, peran kita sebagai orang tua tidak akan tergantikan oleh teknologi maupun lingkungan pergaulan.

 

Sebagai Evaluator, Manfaatkan Momentum

Pendidikan seks juga disampaikan dengan memanfaatkan momentum. Misalnya, saat anak melihat iklan atau cuplikan film yang tergolong sensual, orang tua dapat berperan sebagai evaluator pemahaman anak tentang seks dan masa puber yang telah diberikan sebelumnya. Remaja akan lebih mengingat pendidikan yang diberikan saat berhadapan dengan peristiwa langsung. Karena itu, pastikan kita memiliki aturan yang disepakati dengan remaja mengenai akses terhadap media dan teknologi. Bagaimanapun juga, persepsi mereka terhadap seks dibentuk oleh interaksi mereka dengan orang tua, lingkungan, termasuk media.

 

Terakhir, tanamkan pendidikan agama pada anak sejak dini. Bagaimanapun juga, iman yang kuat adalah benteng terbaik dalam menghadapi gejolak masa puber.