Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. 

Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain. 

Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena itu, selain menggunakan Metode Amenorea Laktasi juga harus menggunakan metode kontrasepsi lain dengan pilihan seperti kondom, suntik progestin, pil menyusui, KB Implan dan IUD alat kontrasepsi dalam Rahim.

Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid pasca melahirkan dan menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan). 

Efektifitas dari metode kontrasepsi ini juga sangat tergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.

 

MAL Pada Ibu Yang Mengidap HIV

Pada kasus Ibu yang memiliki atau mengidap HIV, tidak disarankan untuk melakukan MAL, karena pada metode ini tidak dapat melindungi anak / bayi dari paparan HIV melalui ASI. 

Metode ini boleh dilakukan apabila anak memiliki gangguan metabolisme dengan pertimbangan klinis medis, tingkat keparahan ibu, ketersediaan dan penerimaan metode kontrasepsi lain metode ini tidak dapat memperburuk kondisi ibu dan anak. 

Perburukan akan terjadi apabila ibu tidak mengkonsumsi anti retroviral (ARV). Ibu yang sudah dalam terapi anti retro viral dapat mengurangi risiko transmisi HIV ke bayi. 

Bagi ibu yang tidak sedang dalam terapi ARV jumlah bayi tersebut terinfeksi HIV adalah sebanyak 14% selama 2 tahun menyusui. Sedangkan bagi ibu yang sedang dalam terapi ARV jumlah bayi yang terinfeksi sebanyak 1%. 

Pemberian ASI yang eksklusif memberikan dampak yang baik dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, selain itu juga membuat anak menjadi lebih kuat menghadapi berbagai penyakit. Pemberian ASI hanya boleh dihentikan jika makanan pengganti ASI sudah cukup dan kondisi bayi baik. 

Setelah 6 bulan, jika ibu telah mengalami siklus menstruasi kembali dan atau bayi telah berhenti mengkonsumsi ASI, ibu harus mengganti alat kontrasepsi lain untuk mengganti MAL.



Konsultasi dengan dokter