Hari kelahiran sang buah hati adalah hari yang tidak mudah dilupakan oleh seorang ibu. Paska melahirkan, salah satu harapan seorang ibu adalah mampu memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya. Kesempatan untuk memberikan ASI eksklusif adalah kesempatan yang tidak ingin dilewatkan oleh para ibu.

Pemberian ASI esklusif pun menjadi tantangan tersendiri, karena terkadang apa yang diharapkan tidak berjalan sesuai keinginan. Namun kalau dilihat dari manfaat menyusui ASI Ekslusif hal tersebut bisa memberikan booster semangat untuk para ibu.

Selain tantangan memberikan ASI ekslusif, ada juga tantangan lain yang membuat para ibu suka deg-degan. Dan tantangan itu datang dari pasangan para ibu sendiri yaitu tantangan untuk tidak langsung hamil lagi paska melahirkan.

Setelah 40 hari menunggu masa nifas selesai, tidak bisa dipungkiri pasti para suami pun ingin sekali melepaskan hasrat yang sempat tidak tersampaikan itu. Maka itu, ada sebuah metode kontrasepsi yang aman dan cukup efektif untuk mengurangi risiko kesundulan yaitu MAL

 

Metode Amenorrhea Laktasi (MAL).

Metode Amenorrhea Laktasi merupakan metode kontrasepsi alami, dimana tubuh ibu memproduksi hormon prolactin yang membantu pencegahan produksi hormon reproduksi sehingga ibu tidak bisa mengalami ovulasi. 

Agar metode ini dapat bekerja secara efektif, ibu menyusui perlu memenuhi beberapa kondisi, dimana salah satunya pemberian ASI eksklusif atau sering memberi ASI ke bayi. Apabila ibu memenuhi kondisi metode ini dengan baik, maka efektifitas dapat mencapai 98%.

 

Apa itu MAL?

Metode Amenorrhea Laktasi (MAL) merupakan metode kontrasepsi yang bersifat sementara yang disebabkan karena ibu sedang menyusui bayi. Metode ini perlu memenuhi 3 kondisi antara lain: 

1) Ibu tidak mengalami menstruasi, 

2) Bayi konsumsi ASI eksklusif atau sering diberi ASI, siang dan malam.

3) Usia bayi kurang dari 6 bulan.

 

Bagaimana Cara Kerjanya?

Untuk ibu dapat menyusui bayi, ia memerlukan 2 macam hormon yaitu prolactin dan oxytocin. Kedua hormon tersebut bekerja secara bersamaan, dimana prolactin produksi ASI dan oxytocin mengeluarkan ASI dari puting ibu.

Tubuh memproduksi prolactin apabila ada stimulasi pada puting, sehingga memberi signal kedalam tubuh untuk memproduksi hormon prolactin. Peningkatan produksi dari prolactin menyebabkan terjadi supresi dari hormon androgen yang berfungsi untuk seorang perempuan mengalami ovulasi. Apabila tidak ada ovulasi maka tidak ada menstruasi.

 

Tingkat Efektifitas dari MAL?

Efektifitas dari Metode Amenorrhea Laktasi (MAL) tergantung dengan kemampuan ibu dalam menyusui bayi secara eksklusif atau keseringan dalam menyusui bayi. Berdasarkan berberapa penelitian sebelumnya, sekitar 98 dari 100 ibu menggunakan MAL tidak mengalami kehamilan. 

Apabila MAL digunakan secara benar, tingkat efektifitas akan menjadi tinggi dimana 1 kehamilan per 100 wanita yang menggunakan MAL pada 6 bulan pertama setelah melahirkan.

 

Siapa Yang Bisa Menggunakan MAL?

Pada dasarnya, seluruh perempuan aman untuk menggunakan MAL, tetapi beberapa perempuan yang memiliki kondisi khusus tidak dianjurkan untuk menggunakan MAL dan dianjurkan untuk menggunakan metode kontrasepsi lain. 

Kondisi khusus berupa:

- Perempuan mengalami infeksi HIV

- Perempuan yang sedang konsumsi medikasi tertentu seperti mood-altering drug, reserpine, ergotamine, anti-metabolits, cyclosporine, dosis tinggi kortikosteroid, bromocriptine, obat radioaktif, lithium, dan obat anti koagulant tertentu.

- Bayi yang memiliki kondisi khusus yang menyulitkan mereka untuk menyusui, seperti bayi premature, membutuhkan perawatan intensive, memiliki kesulitan untuk mencerna makanan secara normal atau memiliki deformitas pada mulut, rahang, atau langit-langit dari rongga mulut.

 

Jika ingin benar-benar menggunakan metode MAL ada baiknya juga dibarengi dengan metode kontrasepsi lainnya. Karena mungkin saja ada kondisi-kondisi yang tidak sengaja membuat tingkat efektivitas MAL berkurang atau bahkan tidak bekerja sama sekali.

Karena itu bila ibu ingin menggunakan kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, ibu dapat menggunakan kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen aja atau kontrasepsi tanpa hormon untuk mencegah penurunan produksi hormon prolactin. 

Kontrasepsi yang dapat digunakan oleh ibu yang sedang menyusui berupa pil hormon progestin, suntik KB progestin, kondom, atau IUD.



Konsultasi dengan dokter