Untuk menyajikan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang ideal, orang tua harus memiliki persiapan yang baik. Persiapan tersebut mencakup pengetahuan akan menu makanan yang sesuai dengan usia, konsistensi atau tingkat kepadatan yang tepat, alat-alat untuk mengolah dan menyajikan makanan, serta waktu persiapan yang cukup. 

Pada kenyataannya, tidak semua persiapan tersebut berjalan lancar. Beberapa kendalanya antara lain tidak tersedianya bahan pangan yang diinginkan, kesibukan orang tua (baik sebagai ibu bekerja maupun ibu rumah tangga), orang tua sedang sakit, saat travelling atau acara keluarga, maupun semangat orang tua yang menurun jika anak sering menolak MPASI yang telah disiapkan.

Dalam kondisi di atas, makanan instan biasanya menjadi solusi. Bubur bayi instan adalah salah satu MPASI instan yang paling mudah diperoleh. Selain proses penyajiannya tidak membutuhkan waktu lama, variannya banyak sesuai dengan usia bayi, mengandung zat gizi, serta rasanya enak.

 

Memberi MPASI Instant pada Bayi 

Keuntungan memberikan makanan instan untuk anak saat MPASI adalah terdapat informasi nilai gizi yang jelas yang tertera dalam boks kemasan. 

Biasanya, makanan instan difortifikasi (proses penambahan zat gizi) vitamin atau mineral tertentu, cepat dalam penyajian dan ringkas. Namun, tetap saja pemberian MPASI dalam bentuk makanan sealami mungkin lebih baik. 

Anak akan mendapatkan bahan makanan yang lebih segar dari MPASI alami, jenisnya lebih beragam, rasanya lebih variasi, serta tekstur dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Pemberian makanan alami mengajarkan anak sedini mungkin untuk menyukai makanan sehat.  

Makanan instan mungkin bisa diberikan bagi ibu yang kesulitan menyiapkan makanan non-instan karena sedang bepergian. 

 

Kandungan Nutrisi Pada Sayuran Yang Dikemas didalam Makanan Instant

Vitamin dan mineral dalam sayur dan buah paling cepat hilang pada proses pengolahan, sehingga sayur dan lauk lebih baik dalam bentuk segar. 

Dibandingkan sayur-sayuran, lauk memang lebih sedikit mengalami perubahan nilai nutrisi pada proses pengolahan. Namun, makanan instan yang membutuhkan modifikasi perlakuan untuk lebih lama disimpan akan semakin menurunkan zat gizinya. 

Tetap saja lebih baik makanan olahan rumahan, yang lebih fresh, dan mengetahui proses memasaknya.

Sekarang ini, makanan instan semakin bervariasi jenisnya. Untuk keperluan MPASI sendiri terdapat biskuit yang dapat diolah menjadi bubur, keripik sayur dan buah, puree (sayur atau buah yang dilumatkan hingga menyerupai bubur) instan dalam kemasan toples kaca, homemade nugget, hingga makanan organik tanpa tambahan gula dan garam.

 

Metode Pengawet Dalam Makanan Instant

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan Kodeks telah mengatur bahwa bahan pengawet tidak boleh ditambahkan pada makanan bayi. Makanan bayi instan yang dijual di pasaran bisa awet karena menggunakan teknologi freeze dry atau pengeringan seluruh bahan baku sebelum diolah. 

Dalam kondisi kering, bakteri tidak dapat hidup. Karena itu, setelah dibuka, makanan bayi kemasan sebaiknya segera dihabiskan sebelum dua minggu. 

BPOM juga mengatur tentang penggunaan bahan alami dalam produk makanan bayi instan. 

Sayur, buah, daging yang digunakan dalam MPASI instan diolah dengan teknik penepungan (milling), yaitu pengolahan dengan cara menghaluskan bahan makanan hingga menjadi tepung atau bubuk. Sehingga, jika ada rasa ikan maka rasa tersebut berasal dari ikan asli.

 

Kesimpulannya, MPASI instan dengan izin BPOM aman dikonsumsi. Jangan lupa, perhatikan kondisi kemasan, tanggal kadaluwarsa, dan kandungan gula, natrium, dan sodiumnya. Dua zat terakhir mewakili sebanyak apa kandungan garam di dalam MPASI instan. 

Meskipun demikian, MPASI yang diolah sendiri lebih baik dari sisi pengolahan karena dibuat dari bahan segar dengan rasa alami tanpa tambahan bahan apapun. 

Anak yang lebih banyak mengkonsumsi makanan rumahan lidahnya belum terpengaruh rasa “enak” makanan industri sehingga lebih mudah menerima berbagai jenis rasa asli bahan pangan. 

Hal ini akan mempengaruhi pola makan mereka ketika dewasa kelak. Karena itu, kita sebagai orang tua harus bijak menentukan apa saja yang sebaiknya dikonsumsi oleh anak. 

 

Editor: Menur Adhiyasasti