Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah dua tahun yang disebabkan oleh masalah gizi kronis. Masalah tersebut dapat berupa asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang lama, umumnya karena makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Kondisi ini menyebabkan perkembangan otak dan fisik terhambat, rentan terhadap penyakit, sulit berprestasi, dan saat dewasa mudah menderita obesitas sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya.

Seorang anak dikatakan mengalami stunting jika anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, berat badan rendah untuk anak seusianya, dan pertumbuhan tulang tertunda. 

 

Bagaimana jika anak bertubuh pendek karena genetis/keturunan?

Tinggi badan orang tua memang merupakan faktor potensi dari tinggi badan anak, namun tidak menentukan tinggi badan akhir anak. Selain faktor genetis, pertumbuhan tinggi badan anak juga ditentukan oleh nutrisi, aktivitas, hormon, dan penyakit yang diderita. 

Pertumbuhan tinggi badan anak dipantau melalui kurva pertumbuhan (growth chart) tinggi badan sesuai dengan kelompok usia anak. Tinggi badan yang baik akan sesuai dengan potensi genetik dan berada dalam rentang tinggi badan yang normal sesuai usia. 

Namun, jika tinggi badan anak berada di bawah standar usianya, maka orang tua wajib mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya.

 

Mengapa masih banyak balita stunting meskipun sudah banyak informasi dan program kesehatan untuk balita dan ibu hamil?

Penyebab stunting di Indonesia adalah kombinasi dari berbagai penyebab yaitu faktor individu yang meliputi asupan makanan, berat badan lahir rendah, dan keadaan kesehatan; 

faktor rumah tangga yang meliputi kualitas dan kuantitas makanan, sumber daya, jumlah dan struktur keluarga, pola asuh, perawatan kesehatan, dan pelayanan; serta faktor lingkungan yang meliputi infrastruktur sosial ekonomi, layanan pendidikan, dan layanan kesehatan. 

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut menyebabkan program mengatasi stunting merupakan program nasional yang harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. 

 

Kalau memang anak saya stunting, mengapa kecerdasannya baik?

Anak stunting walaupun dengan kecerdasan yang saat ini baik, sebenarnya dengan kondisi tidak stunting akan lebih cerdas lagi. Kondisi saat ini belum optimal bagi perkembangan anak karena adanya gangguan pertumbuhan.

 

Jika kemampuan ekonomi terbatas, dapatkah anak terhindar dari stunting?

Tumbuh kembang anak dipengaruhi berbagai hal seperti jenis kelamin, usia, keturunan, nutrisi, penyakit yang diderita, stimulasi, pola pengasuhan dan juga ekonomi. Asupan makan yang diberikan pada anak dapat dipilih menggunakan bahan makanan yang mudah didapat, memiliki nilai gizi tinggi, dan murah. 

Pola asuh dan stimulasi yang diberikan pengasuh (orang tua) juga tidak harus selalu mahal dan dapat berupa apapun yang ada di sekitar anak tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi juga merupakan salah satu faktor yang membantu agar tumbuh kembang lebih optimal.

 

Bagaimana dengan indikator stunting untuk anak berkebutuhan khusus (ABK)?

Anak berkebutuhan khusus memang seringkali mengalami gangguan pertumbuhan juga. Sebaiknya cari tahu terlebih dahulu penyebab hambatan pertumbuhannya, apakah ada masalah dalam makanan yang diberikan (porsi/kualitas/variasi yang kurang), masalah ABK-nya memengaruhi asupan makan (gangguan menelan, postur, dsb), atau penyakit bawaan yang dialami anak tersebut. 

Seringkali masalah ABK kompleks dan merupakan kombinasi dari ketiga hal diatas sehingga memerlukan penanganan khusus.

 

Apakah stunting bisa terjadi pada anak dari keluarga berada?

Bisa. Stunting tidak hanya dialami oleh keluarga yang kurang mampu di desa, namun dapat juga dialami oleh keluarga berada di daerah perkotaan. Hal ini dikarenakan stunting bukan semata masalah gizi makanan, namun juga masalah pola asuh dan pola makan yang tidak baik serta sanitasi yang kurang bersih.

Jadi, siapapun bisa mengalami stunting terlepas dari tingkat ekonominya. Anak kita pun berisiko stunting jika sulit makan, misalnya, atau sering mengalami sakit yang mempengaruhi nafsu makannya. 

 

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori namun minim gizi seperti kudapan kaya pemanis maupun MSG tidak hanya berisiko membuat anak kekurangan nutrisi, namun juga membentuk pola makan tidak sehat. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. 

Karena itu, cek kondisi kesehatan anak secara berkala, khususnya untuk mengetahui tumbuh kembangnya sesuai growth chart. Deteksi dini stunting akan memudahkan orang tua untuk mencegah dampak buruk stunting pada anak.

 

Editor: Menur Adhiyasasti