Siapa sih yang tidak ingin anaknya tumbuh sehat dan optimal? Tentu saja semua orang tua menginginkan hal demikian. 

Namun, tidak semuanya tahu bahwa anak yang sehat berawal dari pemberian ASI dan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang optimal di dua tahun pertama kehidupan anak.

Mungkin kita pernah mendengar bahwa 1000 hari pertama kehidupan anak adalah masa yang krusial bagi tumbuh kembangnya. Pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan fase kedua dari 1000 hari tersebut, setelah 9 bulan masa pemberian nutrisi bagi janin di dalam kandungan. 

Pemberian ASI saja tanpa tambahan apapun (eksklusif) ternyata sudah dapat memenuhi seluruh kebutuhan bayi akan energi dan nutrisi selama bulan-bulan pertama kehidupannya.

Nutrisi yang tercakup dalam ASI meliputi vitamin, mineral, lemak, karbohidrat, protein, dan cairan dalam jumlah yang tepat yang dibutuhkan oleh bayi selama 6 bulan. Dengan mekanisme pengosongan tempat penyimpanan ASI yang berada di bawah areola payudara, ASI diproduksi dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan bayi. 

Dengan demikian, pemberian ASI saja sudah mampu mengenyangkan bayi. ASI pun mudah diserap oleh pencernaan bayi yang masih lemah.

 

Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan mendapatkan banyak manfaat, seperti:

 

1. Meningkatkan kekebalan tubuh

ASI mengandung protein-protein seperti lactoferin dan IgA yang berfungsi melindungi bayi dari infeksi kuman seperti bakteri, virus, dan parasit. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mengurangi angka kematian bayi yang disebabkan oleh penyakit seperti diare, radang paru-paru, serta membantu mempercepat proses penyembuhan.

 

2. Melancarkan proses pencernaan

Beberapa jam setelah lahir, saluran cerna bayi mulai dihuni oleh bakteri. Bayi yang mendapat ASI eksklusif, saluran cernanya didominasi oleh Bifidobacteria (bakteri baik), sedangkan pada

bayi yang mendapat susu formula banyak mengandung bakteri patogen (E. coli, Staphylococcus, dan Clostrdium). 

Pada bayi yang mendapat ASI, jumlah bakteri baik mengalami peningkatan. Bahkan pada saat penyapihan, komposisi mikroorganisme saluran cerna anak dilaporkan mirip dengan orang dewasa.

 

3. Lebih cerdas

ASI bisa mempengaruhi kecerdasan bayi karena di dalam ASI terkandung asam lemak yang berperan penting bagi perkembangan otak. Selain itu, ASI juga dapat membantu perkembangan sensorik dan kognitif pada bayi. 

Sebuah penelitian di Korea pada tahun 2006 membuktikan bahwa perkembangan kognitif bayi yang diberi ASI lebih baik dibandingkan yang tidak diberi ASI.

 

4. Mencegah obesitas

Bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya akan tumbuh dengan berat badan ideal meskipun ia banyak menyusu. Hal ini karena dibandingkan susu formula, ASI mengandung lebih sedikit insulin. 

Insulin sendiri dapat memicu pembentukan lemak pada bayi. Pada ASI, ditemukan juga hormon leptin yang berperan dalam metabolism lemak. Leptin bertugas menyampaikan pesan pada otak tentang terdapatnya lemak pada tubuh. Hal ini memperkecil peluang terjadinya obesitas pada bayi.

 

5. Mencegah kelainan kardiovaskular

ASI mengandung adiponektin yang berfungsi mencegah terjadinya penebalan pembuluh darah (aterosklerosis) dan radang. Kedua hormon ini diperkirakan dapat mengurangi risiko anak dari penyakit kardiovaskular (hipertensi, penyakit jantung koroner) di kemudian hari.

Ketika usia bayi mencapai 6-12 bulan, ASI hanya mampu mencukupi setengah dari kebutuhan nutrisi bayi dan sepertiga kebutuhan anak pada usia 1-2 tahun. 

Selain itu, pada usia 6 bulan ke atas, kapasitas alat pencernaan, enzim pencernaan, dan kemampuan metabolismenya sudah siap untuk menerima makanan selain ASI. Karena itu, bayi mulai diperkenalkan pada MPASI.

 

MPASI Seperti Apakah yang Baik Bagi Bayi?

Dalam Pedoman Gizi Seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, MPASI harus mengandung zat gizi yang cukup untuk menggantikan berkurangnya zat gizi tersebut pada ASI. 

Karenanya, pemilihan bahan makanan MPASI harus tepat agar kebutuhan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien seperti vitamin A dan zat besi dapat terpenuhi.

Secara sederhana, makanan yang kita berikan pada bayi sebaiknya tidak hanya sekedar mengenyangkan anak, tetapi juga memberikan kecukupan zat gizi lain untuk pertumbuhannya. 

Misalnya, pemberian nasi kecap saja sudah memenuhi kebutuhan kalori, namun nilai gizinya perlu dipertanyakan karena asupan protein dan mikronutrien terabaikan.

Proses pemberiannya pun harus bertahap, baik dalam hal porsi, frekuensi, hingga tingkat kepadatan makanan. Selain itu, hindari pemberian gula dan garam karena belum dapat dicerna oleh ginjal bayi.

Tujuan pemberian makanan tambahan ini adalah untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, menghindari terjadinya kekurangan gizi, mencegah risiko malnutrisi dan defisiensi mikronutrien. 

Pertumbuhan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat pertambahan berat badan. Tidak adanya peningkatan berat badan menunjukkan bahwa kebutuhan energi bayi tidak terpenuhi. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan gizi hingga stunting (tumbuh pendek).

Karena itu, kita sebagai orang tua perlu mengupayakan pemberian ASI eksklusif dan MPASI dengan gizi seimbang tidak hanya agar anak lebih sehat dan lebih cerdas, namun juga untuk mendidik kebiasaan makan sehat dengan berbagai macam bahan makanan alami yang bernutrisi.



Konsultasi dengan dokter