Selama ini, faktor ekonomi menjadi alasan yang paling umum untuk mengatur jarak kehamilan. Kebutuhan untuk persalinan, imunisasi, kesehatan, sandang pangan, hingga pendidikan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga memiliki anak dengan jarak usia yang dekat dirasa memberatkan orang tua secara finansial. 

Padahal, ada alasan yang lebih penting untuk menjarakkan usia anak, yaitu pemenuhan gizi secara optimal.

Seperti yang sering kita dengar, bahwa tiga tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan periode emas (golden period), yaitu saat dimana terjadinya optimalisasi proses tumbuh kembang. 

Agar proses tumbuh kembang anak berjalan dengan baik, zat gizi yang seimbang mutlak diperlukan. Jika kebutuhan anak akan gizi seimbang tidak terpenuhi, pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak (terutama perkembangan motorik) akan terhambat.

Jarak anak yang terlalu pendek berpotensi menghambat pemenuhan zat gizi tersebut. Jika ibu kembali hamil pada saat anak pertama masih menyusu, ibu harus “berjuang” agar kebutuhan ASI anak pertama sekaligus kebutuhan nutrisi janin terpenuhi. 

Ingat, tiga tahun pertama dihitung sejak bayi berada di dalam kandungan lho. Jadi, proses “memberi makan” sudah berlangsung sejak kita hamil.

Pada masa ini, otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke-24 sampai minggu ke -42 setelah konsepsi. 

Perkembangan ini terus berlangsung setelah bayi lahir hingga usia 2 atau 3 tahun, meskipun perkembangan yang paling pesat terjadi pada 6 bulan pertama setelah bayi dilahirkan.

Tidak main-main, kekurangan gizi pada usia di bawah 2 tahun menyebabkan berkurangnya sel otak hingga 15-20%. Artinya, kualitas otaknya saat ia dewasa hanya sekitar 80-85%!

Memang seberapa sulit sih memenuhi gizi anak jika jarak kelahirannya dengan sang adik/kakak cukup dekat?

Sulit atau mudah tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Semua tergantung pada komitmen ibu, support system, kondisi kesehatan ibu maupun anak, serta kondisi lingkungan. Namun, secara umum, mempersiapkan dan membiasakan anak untuk makan sehat membutuhkan usaha serta kedisiplinan di tengah gaya hidup yang serba instan.

Selepas ASI eksklusif selama 6 bulan, petualangan baru anak dengan MPASI (Makanan Pendamping ASI) dimulai. Menyusun menu sehat yang memenuhi unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral -yang idealnya tanpa gula dan garam sampai usia 1 tahun-, diperlukan waktu yang tidak sedikit. 

Proses persiapan makanan membutuhkan waktu ekstra seperti mengukus, membuat bubur, melumat, maupun mencincang.

Bersyukurlah jika ananda mau menikmati hasil jerih payah kita. Melepeh, menutup mulut, atau malah memainkan makanan bisa saja dilakukan oleh anak kita sebagai reaksinya saat

berkenalan dengan rasa baru di luar ASI. Kemudian, pada usia 1-3 tahun anak mulai sulit makan karena mulai tumbuhnya otoritas untuk menentukan mana yang mau ia makan atau tidak, serta indera perasanya yang mulai mampu membedakan rasa enak dan tidak enak.

Nah, tantangan di atas menjadi dua kali lipat lebih sulit jika jarak antar anak dekat, misalnya di bawah dua tahun. Pada usia batita, anak masih banyak bergantung pada orang dewasa –khususnya sang ibu. 

Tidak hanya dalam aspek kemandirian, namun juga perhatian dan kasih sayang. Tidak salah jika masa-masa ini termasuk masa yang paling melelahkan bagi seorang ibu. 

Jika kerepotan tersebut masih harus bertambah dengan lahirnya sang adik, bisa jadi kelelahan ibu membuat pemenuhan gizi sang kakak tidak optimal. Atau sebaliknya, makanan yang dikonsumsi oleh sang adik menjadi ala kadarnya karena kakak mulai memasuki usia yang membutuhkan perhatian dan interaksi lebih dengan orang tuanya. 

Sehingga, pemenuhan kebutuhan anak yang lebih tua diutamakan.

Karena itu, penjarakan kelahiran sebaiknya dilakukan dengan cermat agar kita mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara maksimal. Makanan bergizi menjamin sistem tubuh berfungsi secara normal serta mampu mencegah munculnya berbagai masalah kesehatan pada anak seperti kekurangan zat besi, obesitas, dan karies gigi. 

Saat dewasa kelak, pemenuhan gizi pada usia emas dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit kronis semacam diabetes, penyakit jantung, stroke, hingga kanker.

Anak yang sehat tentu menjadi impian kita semua. Jangan sampai keputusan kita untuk memiliki anak dengan jarak yang terlalu dekat tidak kita imbangi dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya akan kesehatan. 

Dengan penjarakan kelahiran, kita pun dapat lebih menikmati momen makan bersama tiap anak dan melihatnya tumbuh dan berkembang.