Kehamilan adalah perjalanan yang panjang, sulit, dan melelahkan bagi seluruh para calon ibu. 

Tentunya, banyak dari calon ibu yang telah mempelajari atau mencari informasi seputar kehamilan seperti: berapa lamakah persalinan yang dikatakan normal, apa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai saat mengandung, proses persalinan, pentingnya pemeriksaan rutin janin, dan lain – lain. 

Hal – hal tersebut tidaklah salah untuk diketahui karena hal – hal tersebut merupakan hal yang perlu untuk diketahui para calon ibu. Namun sayangnya, terdapat hal yang sebenarnya juga penting untuk diperhatikan namun sering terlupakan yaitu pentingnya pemberian jarak antar kehamilan. 

Berikut akan dibahas seputar pemberian jarak antar kehamilan: resiko yang dapat terjadi bila jarak antar kehamilan terlalu dekat, jarak ideal antar kehamilan, dan cara untuk memberikan jarak antar kehamilan.

 

Apa Resiko Yang Dapat Terjadi Bila Jarak Antar Kehamilan Terlalu Dekat (<1 THN)?

Penelitian mengatakan bahwa memulai kehamilan dalam waktu enam bulan setelah melahirkan bayi yang hidup dikaitkan dengan peningkatan risiko:

- Kelahiran Prematur

- Plasenta sebagian atau seluruhnya mengelupas dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan (plasental abruption)

- Berat Badan Bayi Lahir Rendah

- Gangguan Kongenital

- Skizofrenia

 

Pengaruh Terhadap Janin

Pengaruh jarak antar kehamilan < 12 bulan adalah meningkatkan risiko stillbirth (melahirkan bayi yang telah mati), kematian neonatal dini, kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah.

Penelitian baru – baru ini juga melaporkan bahwa jarak antar melahirkan bayi hidup dengan kehamilan yang kurang dari 2 tahun mungkin terkait dengan peningkatan risiko autisme bagi anak kehamilan yang kedua. Dimana resiko tertinggi ada pada jarak antar kehamilan kurang dari 12 bulan.

Ada penelitian juga yang melaporkan bahwa ibu yang mengalami kekurangan asam folat berisiko melahirkan anak dengan bakat penyakit skizofrenia.

 

Pengaruh Terhadap Ibu

Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan cadangan simpanan zat - zat pada sang ibu yang telah terpakai pada kehamilan sebelumnya belum tergantikan, keadaan yang dikenal sebagai “Maternal Depletion Syndrome.” 

Kehamilan dan menyusui dapat menguras simpanan zat gizi Anda, terutama folat dan zat besi. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan menurun-nya kadar sel darah merah dan kekurangan asam folat dapat menyebabkan cacat tabung saraf, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur dan terhambatnya pertumbuhan janin dalam kandungan.

Radang saluran alat kelamin yang terjadi selama kehamilan dan belum sepenuhnya sembuh sebelum kehamilan berikutnya juga dapat meningkatkan resiko PPROM (Preterm Premature Rupture of Membranes / Pecah Membran Prematur Pramatang).

 

Bila Melahirkan Secara SC, Berapa Lama Sebaiknya Saya Menunda Kehamilan Selanjutnya?

Bagi mereka yang memiliki riwayat melahirkan SC, sebaiknya jarak antar ke kehamilan berikutnya adalah paling sedikit 2 tahun.

 

Jarak Antar Kehamilan Yang Ideal

Jarak antar kehamilan yang ideal adalah paling sedikit 24 bulan dan paling banyak 60 bulan. Mengapa jarak kehamilan yang terlalu lama juga tidak baik? Jarak antar kehamilan yang terlalu lama membuat keadaan tubuh ibu yang sudah pernah melahirkan sebelumnya mirip dengan seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya.

 

Solusi Menjaga Jarak Kehamilan

Cara menjaga jarak kehamilan agar tidak tiba – tiba hamil saat pemberian jarak adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi. Untuk jenis kontrasepsi dan waktu pemasangan yang tepat dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Manfaat Pemberian Jarak Antar Kehamilan Bagi Ibu dan Janin

 

Untuk mengetahui jenis metode kontrasepsi yang tepat bila anda memiliki penyakit penyerta lainnya penting untuk dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. 

Tentunya perencanaan mengenai penggunaan metode kontrasepsi apa yang tepat bisa dilakukan ketika kunjungan rutin cek kehamilan atau biasa disebut prosedur Antenatal Care.