Autisme pada anak ditandai dengan adanya kesulitan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Dengan adanya perbedaan perilaku pada anak dengan autisme, orang tua mau tidak mau harus memiliki kesabaran dan usaha yang ekstra untuk membimbing anak agar bisa beradaptasi dengan lingkungannya. 

 

Terkadang, dalam prosesnya, orang tua lah yang lebih rentan merasa stres saat menghadapi sang anak dan merasa putus asa.

 

Jika anda adalah salah satunya, tidak ada salahnya mencari teman untuk berbagi seperti yang dilakukan oleh beberapa orang tua, saudara, maupun guru dari anak autis berikut ini. Mereka berbagi tips tentang bagaimana membesarkan anak dengan autisme tanpa harus merasa kelelahan setiap hari.

 

 

1. Atur Waktu Dengan Spesifik

 

“Anak saya yang beranjak remaja didiagnosis autis sejak umur tiga tahun. Hal yang menurut saya sangat membantunya adalah menerapkan waktu yang spesifik untuk setiap kegiatan. Misal, saya mengatakan padanya bahwa kami akan berbelanja selama satu jam. 

 

Kalau perlu, katakan dari jam berapa hingga jam berapa. Penting juga untuk memberi tahu jika waktu yang dijanjikan akan berakhir beberapa menit lagi, sehingga ia tidak akan kecewa ketika sedang asyik bermain dan tiba-tiba kita menghentikannya.” @ecocrafty

 

 

2. Namun, Tetaplah Fleksibel

 

“Kita harus bisa seimbang antara mengikuti rutinitas dan bersikap fleksibel. Pelajaran penting yang saya dapat adalah, ikuti mereka. Ada kalanya kita harus menunda mengerjakan banyak hal pada hari itu hanya karena anak kita sedang tidak kooperatif. Tidak masalah. 

 

Mengizinkan anak untuk tidak melakukan sesuatu karena mereka tidak mampu membuat mereka merasa dihargai. Dan itu sangat berarti bagi mereka.” @tiffany

 

 

3. Ajari Anak Untuk Memberi Tahu Jika Ingin “Rehat”

 

“Dua anak laki-laki saya menunjukkan gejala high-functioning autism. Saran terbaik saya adalah, ajari anak anda untuk menyadari ketika tanda-tanda kecemasan atau kelelahan mulai muncul. 

 

Akan sangat mudah bagi anda ketika anak mengatakan, “Aku butuh rehat”. Dimanapun ia mengatakannya, sediakan area baginya untuk menenangkan diri sejenak, meskipun ia sedang berada di acara yang sangat penting.” @laylathewarrior

 

 

4. Stop Membandingkan

 

Saat melihat anak seusianya sudah bisa melakukan banyak hal, hindari membandingkannya anak kita. Tidak ada manfaatnya. @rhianna

 

 

5. Hargai Cara Pandang Anak Terhadap Dunia

 

“Memiliki anak autis tidak membuat hidup saya menderita, malah lebih menarik. Saya jadi bisa melihat dunia melalui sudut pandang anak saya dan perbedaan itu adalah hal yang indah.” @tracyboyetter

 

 

6. Gemari Kegemaran Mereka

 

“Temukan apa yang mereka sukai! Gunakan kegemaran tersebut sebagai penyemangat maupun hadiah atas keberhasilan mereka, juga sebagai cara untuk memulai komunikasi. Anak saya suka sekali dengan air. Saat ia sedang bersantai di pantai menikmati ombak, kami biasa berbincang tentang banyak hal tanpa harus melakukan kontak mata.” @annemarieraof

 

 

7. Ijinkan Mereka Menenangkan Diri

 

“Jika anak anda mulai gelisah, biarkan saja selama tidak membahayakan. Anak anda memiliki kemampuan untuk menenangkan diri dengan cara mereka sendiri untuk mengatasi rangsangan berlebih dari lingkungan. Sentuhan kain baju, tekstur makanan, cahaya yang menyilaukan mungkin tidak dapat mereka toleransi, dan itu benar adanya.” @nathansmom

 

 

8. Jangan Anggap Remeh Kemampuan Mereka

 

“Saya mengajar kelas untuk anak autis. Satu hal yang saya pelajari adalah, mereka memahami lebih BANYAK dari yang mereka tunjukkan. Mereka hanya tidak mampu mengekspresikannya seperti kita. 

 

Sehingga, saya sering meminta mereka untuk memimpin permainan maupun saat proses belajar. Mereka lebih mudah belajar bahasa melalui hal yang mereka sukai.” @imrenad

 

 

9. Semangati Mereka Untuk Menyelesaikan Masalah

 

“Saran saya: Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jika mereka membutuhkan bantuan anda, mereka akan bilang. Jika mereka frustrasi, dukungan dan kasih sayang anda akan sangat berarti.” @broadwaybabyjr

 

 

10. Diagnosis Tidak Merubah Anak Anda

 

“Anak saya berusia empat tahun. Pertama kali mendengar vonis “autis”, saya terpuruk. Selama berhari-hari yang saya lihat adalah autism saat saya memandangnya. Semua yang ia lakukan itu autis. Dan saya merasa sangat sedih untuknya. 

 

Namun kemudian saya menyadari, anak saya tetaplah anak yang sama sebelum kata “autis” masuk ke dalam kehidupan kami. Segala sesuatu yang menyenangkan darinya tetaplah ada dan kesulitan yang muncul sehar-hari juga sama. ia bukanlah diagnosis, ia tetaplah anak saya.” @c82

 

 

Jika anda mulai merasa hidup seperti tidak bersahabat meskipun anda sudah melakukan semua tips di atas, berilah waktu jeda untuk diri anda sendiri. Kerjasama yang baik dengan pasangan maupun support system seperti keluarga besar dan pengasuh sangatlah penting.

 

Ada kalanya, anda perlu menghadapi hal-hal tersebut dengan tawa. Tertawa akan membuat anda lebih rileks.

 

 

Artikel ini disadur dari 20 Parents’ Helpful Tips For Raising Kids With Autism Spectrum Disorder oleh Anthony Rivas