Kehamilan ektopik merupakan penyebab kematian ibu hamil nomor satu di trimester pertama kehamilan. Oleh karena itu, topik kehamilan ektopik sangat penting bagi para wanita yang ingin atau sedang hamil. 

 

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya para wanita dengan pengetahuan dasar mengenai kehamilan ektopik agar dapat memahami apa itu kehamilan ektopik dan dapat mengenali tanda-tanda dan gejala kehamilan ektopik. Hal ini sangat penting agar penanganan sedini mungkin dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan. 

 

Kehamilan ektopik adalah sebuah kehamilan di mana janin berada di luar dinding rahim. Tuba falopi merupakan tempat paling sering terjadinya kehamilan ektopik. Tuba falopi tidak dirancang untuk menampung sebuah janin yang bertumbuh; oleh karena itu, janin yang berada di tuba falopi tidak dapat bertumbuh dan umumnya berakhir pada kematian janin. 

 

Selain itu, janin yang berkembang di dalam tuba falopi justru, jika dibiarkan bertumbuh, akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu. Gejala-gejala kehamilan ektopik antara lain meliputi nyeri perut, tidak adanya haid, dan perdarahan dari jalan lahir.

 

Jika Anda sebagai seorang ibu hamil mengalami gejala-gejala tersebut, dokter dapat memeriksa kadar sebuah hormon penanda kehamilan, yakni hormon hCG. Apabila kadar hormon tersebut ditemukan lebih rendah dari pada semestinya, maka kecurigaan akan adanya sebuah kehamilan ektopik semakin meningkat. 

 

Selain itu, dokter juga dapat memeriksa USG untuk mengetahui apakah kehamilan terjadi di dalam rahim atau tidak. Sayangnya, apabila jika kehamilan ektopik terjadi, tidak mungkin kehamilan dapat berlanjut. 

 

Jika dokter telah mendiagnosis Anda dengan kehamilan ektopik, maka dokter dapat memberikan Anda sebuah obat untuk menghentikan pertumbuhan janin yang lebih lanjut, jika janin masih berukuran kecil. 

 

Apabila janinnya dinilai sudah bertumbuh terlalu besar untuk ditangani dengan obat, maka dokter dapat melakukan tindakan bedah untuk mengeluarkan janin tersebut.

 

Pada awalnya, kehamilan ektopik memiliki gejala-gejala sama seperti kehamilan normal, yakni mual-muntah, haid yang terlewatkan, lelah, payudara yang terasa sakit, dan buang air kecil yang semakin sering. 

 

Ciri-ciri yang membedakan kehamilan normal dengan kehamilan ektopik baru muncul ketika janin sudah bertambah ukuran yang cukup. Gejala- gejala kehamilan ektopik yang membedakannya dengan kehamilan normal antara lain adalah perdarahan dari jalan lahir, sakit pada daerah perut atau pinggul, nyeri yang diperparah dengan pergerakan, dan nyeri yang menusuk terutama pada satu sisi perut.

 

Pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah seseorang dapat kembali hamil setelah mengalami kehamilan ektopik. Jawaban singkatnya adalah ya; Anda dapat melahirkan seorang bayi sehat yang cukup bulan setelah kehamilan ektopik. 

 

Namun perlu diingat bahwa sekali Anda telah mengalami kehamilan ektopik, maka risiko untuk mengalami kehamilan ektopik kembali sedikit meningkat. 

 

Merokok meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik dan memiliki berbagai macam bahaya baik bagi ibu maupun janin; oleh karena itu, sebaiknya Anda berhenti merokok jika Anda sedang atau ingin hamil. 

 

Selain itu, usia ibu yang semakin tua juga semakin meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi pada wanita berusia 30-an akhir dan 40-an awal.

 

Bagaimana kehamilan ektopik pertama ditangani juga memiliki peran. Apabila kehamilan ektopik pertama ditemukan dan ditangani dini dengan obat, maka risiko terjadinya kehamilan ektopik tidak terlalu meningkat. 

 

Sebaliknya, jika kehamilan ektopik pertama ditemukan dan ditangani telat ketika tuba falopi sudah pecah dan membutuhkan tindakan bedah untuk menanganinya, maka risiko terjadinya kembali sebuah kehamilan ektopik meningkat secara drastis.