Membayangkan pesta pernikahan yang berkesan tidak mungkin terlepas dari menghitung biayanya. Sebagian orang cukup beruntung memiliki orang tua yang bersedia menanggung seluruh biaya resepsi, walau mungkin lebih banyak lagi yang cukup pusing memikirkan biaya dan segala keperluan menjelang pernikahan.

 

Mengumpulkan sekian ratus juta atau “sekadar” puluhan juta dalam waktu satu tahun atau beberapa bulan bukanlah hal yang mudah khususnya bagi calon mempelai yang umumnya baru saja menapaki karir. 

 

Di Indonesia, orang tua seolah memiliki kewajiban untuk membiayai pesta pernikahan anaknya walaupun secara agama dan hukum tidak ada aturannya. Bahkan, mengadakan pesta di desa biayanya bisa jauh lebih besar karena harus melibatkan tetangga, mengadakan dangdutan atau wayangan semalam suntuk, serta perayaan yang berlangsung selama seminggu. 

 

Menjual aset pun sah-sah saja dilakukan demi memenuhi tuntutan sosial. Jika tidak ada yang bisa dijual, berhutang pun menjadi solusi yang umum dipilih.

 

Pertanyaannya, mungkin tidak ya menikah tanpa harus berhutang?

 

Mungkin saja. Kalaupun harus berhutang, jangan sampai membuat hidup jadi tidak tenang karena cicilan yang melebihi kemampuan. Beberapa cara di bawah ini bisa dicoba.

 

 

1. Membuat Tabungan Rencana Pernikahan

 

Saat anda mulai bekerja atau memulai berwirausaha, tidak ada salahnya anda menyiapkan tabungan khusus untuk biaya pernikahan. Biasanya, para lajang yang masih merasakan nikmatnya memiliki penghasilan tanpa harus membiayai anggota keluarga kerap terjebak pada gaya hidup boros. 

 

Karena itu, sisihkan beberapa persen dari penghasilan anda untuk tabungan pernikahan, meskipun anda belum memiliki calon pasangan. Jika anda sudah memiliki calon, masing-masing dapat mempersiapkan biaya sesuai kemampuan. 

 

Lebih baik lagi jika anda berdua sudah memperhitungkan berapa biaya yang diperlukan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 

 

2. Pesta Sederhana

 

Pada intinya, pesta pernikahan adalah berbagi kebahagiaan dengan saudara dan kerabat. Tidak ada yang mengharuskan anda untuk mengundang minimal 100 orang, kecuali jika anda memiliki keluarga besar sebanyak itu dan kesemuanya harus hadir. 

 

Jika memungkinkan, anda bisa mengadakan semacam syukuran dengan keluarga atau teman yang benar-benar dekat. Syukuran ini bisa diadakan di rumah setelah akad nikah. Kalaupun tidak, anda bisa mengadakannya di restoran atau menyewa tempat yang harganya terjangkau.

 

 

3. Pangkas Elemen Yang Tidak Mendesak

 

Jika anda dan keluarga masih menginginkan pesta pernikahan pada umumnya, anda bisa memangkas beberapa elemen yang ada ataupun menyederhanakannya. Misalnya, menggunakan undangan digital melalui media sosial, menyewa baju pengantin, tidak menyediakan seragam dan rias kecuali keluarga inti, meniadakan foto pre wedding,

 

menghilangkan prosesi adat, membatasi pilihan menu, maupun memutar musik alih-alih mengundang wedding singer. Anda juga bisa memilih paket pernikahan yang banyak ditawarkan di hotel karena model paket biasanya lebih ringkas dan hemat. 

 

Jangan lupa meneliti fasilitas yang ditawarkan. Jangan sampai harganya murah tetapi biaya tambahannya banyak. Bisa-bisa anda mengeluarkan biaya yang lebih besar dari pesta non paket.

 

 

4. Menunda Resepsi

 

Anda dan pasangan dapat juga mengadakan akad nikah terlebih dahulu baru kemudian mengadakan resepsi ketika biaya sudah tersedia. Cara ini memang jarang sekali dilakukan di Indonesia. 

 

Namun, jika hal ini tidak masalah bagi anda maka bisa saja dicoba. Sebagai gantinya, anda dapat mengirimkan kue sebagai bentuk syukuran kepada saudara dan kerabat dekat.

 

 

Karena pesta pernikahan di Indonesia umumnya juga merupakan acara milik orang tua mempelai, maka anda harus pandai-pandai mengkomunikasikan keinginan anda kepada orang tua. 

 

Jika bagi mereka menghilangkan beberapa elemen pesta adalah suatu hal yang tidak wajar, anda dapat memberikan ilustrasi “penghematan” yang bisa dilakukan dengan resepsi sederhana, seperti biaya uang muka rumah, kendaraan, ataupun tabungan pendidikan anak kelak. 

 

Yakinkan mereka bahwa tekanan sosial akan selalu ada pada setiap fase kehidupan dan jangan sampai anda mengorbankan kehidupan yang tenang tanpa hutang hanya karena takut menjadi bahan pembicaraan orang.

 

Semoga saja anda, calon pasangan, dan orang tua bisa sepakat ya. Kalaupun tidak, jangan sampai anda dan keluarga memiliki hutang jauh dari yang mampu anda tanggung. Hitung dengan baik aset yang dimiliki dan beranikan diri untuk teguh pendirian menyesuaikan besarnya acara pernikahan dengan kemampuan.