Menerima kenyataan bahwa anda menderita kanker serviks jelas tidak mudah. Apalagi, jika Anda masih berencana untuk memiliki keturunan. Seberapa besarkah kemungkinan untuk mempertahankan kesuburan dengan adanya kanker di salah satu bagian rahim?

 

Kanker serviks merupakan kanker yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus) dan menyerang leher rahim. Kanker ini seringnya ditularkan melalui hubungan seksual. Dari sekian banyak penduduk yang mengidap kanker di Indonesia, sepertiganya adalah penderita kanker serviks. 

 

Meskipun menyerang organ reproduksi, adanya kanker serviks di dalam tubuh ternyata tidak serta merta menghilangkan kesempatan seseorang untuk mengandung dan memiliki anak. 

 

Virus HPV tidak secara langsung berpengaruh pada kesuburan meskipun ada penelitian yang menemukan bahwa pasien yang positif HPV memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga embrio sulit berkembang. Meskipun demikian, jenis pengobatan lah yang dapat mengurangi tingkat kesuburan.

 

 

Tahapan kanker dan jenis pengobatan mempengaruhi kondisi rahim

 

Seperti kanker pada umumnya, jenis pengobatan bergantung pada stadium atau tahapan kanker. Kanker serviks yang ditemukan pada stadium awal dapat diobati dengan tiga cara, yaitu radical trachelectomy, cone biopsy, dan LLETZ.  Tiga cara tersebut masih memungkinkan organ reproduksi untuk tetap berfungsi meskipun kehamilan bisa menjadi beresiko.

 

Pada radical trachelectomy, sel kanker akan disingkirkan dengan cara mengangkat serviks tanpa mengangkat rahim. Bagian bawah rahim ditutup dengan jahitan sehingga janin masih bisa tumbuh dan berkembang dalam rahim. 

 

Dengan adanya jahitan tersebut, kelak persalinan akan dilakukan secara sesar. Namun, metode ini meningkatkan risiko kelahiran prematur.

 

Sementara itu, cone biopsy hanya mengambil jaringan berbentuk kerucut dari serviks dimana sel-sel abnormal pemicu kanker berada. Serviks tidak diangkat. Meskipun luka bekas operasi ringan ini akan pulih dalam satu bulan, namun bekas luka tersebut menyebabkan perubahan permanen pada serviks. Hal ini berpotensi menyebabkan keguguran maupun kelahiran prematur.

 

Serupa dengan cone biopsy, LLETZ (Large Loop Excision of The Transformation Zone) mengambil sel abnormal di zona transformasi, yaitu area serviks dimana sel abnormal cenderung berkembang. Dengan pengobatan ini, kelahiran prematur juga dapat terjadi, tergantung dari jumlah jaringan leher rahim yang diambil.

 

Jika kanker berada pada stadium akhir, maka histerektomi, radioterapi, dan kemoterapi adalah pilihan pengobatan yang dapat dilakukan. Histerektomi dilakukan dengan cara mengangkat rahim, sementara radioterapi dan kemoterapi dapat mematikan sel-sel kanker sekaligus merusak sel telur dan ovarium. Karena itu, kedua pengobatan ini akan membuat anda tidak dapat hamil.

 

 

Bagaimana jika saya ingin tetap hamil?

 

Dengan pengobatan kanker stadium awal, kehamilan masih tetap dapat diusahakan. Meskipun demikian, anda harus memahami bahwa kehamilan anda kelak lebih berisiko dibanding kehamilan pada umumnya. 

 

Pada stadium lanjut, dokter dapat menyarankan agar sel telur dapat dibekukan dan disimpan sebelum pengobatan kanker serviks dilakukan. Jika rahim masih dapat berfungsi baik setelah penanganan kanker, maka anda dapat melakukan program bayi tabung. 

 

Dengan memahami efek kanker serviks pada tubuh anda, anda akan dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menjalani kehamilan.

 

 

Apakah bayi dapat lahir selamat dengan kanker serviks di tubuh?

 

Kanker serviks yang ditemukan pada wanita hamil rata-rata masih berada pada stadium awal. Jika kanker ditemukan saat kandungan sudah berusia di atas 3 bulan, maka kehamilan dapat dilanjutkan. Bayi dapat dilahirkan melalui operasi sesar dan pengobatan akan dilakukan pasca persalinan.

 

Jika usia kehamilan di bawah tiga bulan, dokter dapat menyarankan untuk mengobati kanker segera yang berarti anda harus memilih untuk menggugurkan bayi anda. Kemoterapi pada trimester pertama kehamilan berbahaya karena dapat mengganggu pembentukan janin maupun menyebabkan keguguran.

 

 

Deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA

 

Mengingat besarnya resiko kanker serviks pada stadium berapapun ia ditemukan, sebaiknya lakukan deteksi dini kanker serviks. Salah satunya cara dengan IVA (Inveksi Visual dengan Asam Asetat). 

 

IVA merupakan metode sederhana yang dilakukan dengan cara mengoles asam asetat pada leher rahim, untuk kemudian diamati secara langsung apakah terjadi perubahan warna. Perubahan warna menunjukkan normal tidaknya kondisi serviks. Tes ini dapat dilakukan 1x pada usia 35-40 tahun atau 3 tahun sekali pada usia 35-60 tahun.

 

Selain melakukan deteksi dini kanker serviks, selalu jalani gaya hidup sehat dengan asupan gizi seimbang  sebagai upaya pencegahan kanker. Hilangkan kebiasaan merokok dan hindari berganti-ganti pasangan seksual untuk kondisi rahim yang lebih sehat.

 

Masih bingung dan butuh saran medis yang lebih akurat dan terpercaya? Tanyakan saja masalah kesehatan Anda ke dokternya langsung lewat aplikasi Halodoc! Di situ Anda dapat berkonsultasi langsung dengan para dokter melalui fitur "Contact Doctor" yang tersedia via Chat dan Voice/Video Call.

 

Yuk download Halodoc di Google Play dan App Store dan temukan solusi medis terpercaya seputar kesehatan Anda!