Kalau melihat Azka, tidak terbayangkan bahwa delapan belas tahun yang lalu saya sempat ingin berusaha menghilangkannya dari hidup saya. Saat itu, saya masih kelas dua SMA. Mengetahui ada janin dalam perut saya, saya kalut luar biasa. Bagaimana bisa saya membesarkan seorang anak sementara saya sendiri belum selesai menjadi seorang anak?

 

Ketakutan akan reaksi orangtua dan orang-orang di sekitar saya membuat saya dan kekasih saya menyembunyikan kehamilan ini rapat-rapat. Saya hanya berani menceritakan tentang hal ini kepada sepupu saya, sambil berusaha mencari cara untuk menggugurkan kandungan. 

 

Pada saat itu, internet belum menjadi sumber utama informasi sehingga dari bertanya dari teman ke temanlah saya mengetahui upaya untuk aborsi. 

 

Segala upaya pernah saya coba. Mulai dari meminum obat herbal satu boks sekaligus, mencampur obat sakit kepala dengan minuman bersoda, sampai datang ke orang pintar. Semua gagal. 

 

Bahkan kecelakaan motor dan terjatuh ketika bermain basket pun tidak sedikitpun membuat bayi dalam kandungan saya terluka. Saya pun semakin putus asa.

 

Dalam kondisi nyaris tanpa support, saya memutuskan untuk memberitahu orangtua saya pada saat usia kehamilan menginjak bulan ketiga. Dengan segala resikonya.

 

Ternyata keputusan saya tidak salah. Semarah-marahnya mereka kepada saya, dari mereka pulalah saya mendapat dukungan moral terbesar. 

 

Ibu mulai mengajak saya ke dokter kandungan dan menjaga asupan gizi saya agar janin di dalam perut saya sehat. Walaupun begitu, saya masih belum sepenuhnya menerima kehamilan ini. Jika saya merasa kesal, saya pukul-pukul perut saya tanpa seorang pun tahu. 

 

Saya menjalani kehamilan hanya karena saya harus menjalaninya, saya tidak punya pilihan lain. Saya sangat bersyukur keluarga saya masih bisa menjadi tempat yang membuat saya merasa aman di saat lingkungan sekitar dan teman-teman saya membuat saya seolah ingin bersembunyi selamanya. 

 

Pada trimester kedua, saya dan kekasih menikah. Namun, pernikahan ini tidak membawa banyak perubahan karena kami masih sama-sama remaja yang tidak tahu apa-apa tentang berumah tangga, apalagi memiliki seorang anak. 

 

Semua hal tentang perawatan kehamilan hanya bergantung dari informasi ibu saya dan dokter kandungan yang rutin saya kunjungi. Hingga akhirnya Azka lahir, ibu saya yang akhirnya berperan merawat Azka karena perkawinan kami tidak berlangsung lama. Saya pun harus kembali bersekolah.

 

Kini, hubungan saya dan Azka tidak hanya layaknya ibu dan anak, tetapi seperti sahabat. Saya selalu jujur padanya tentang bagaimana ia bisa ada meskipun beban moral itu hingga kini tetap ada. 

 

Di situ, saya tekankan pentingnya terbuka kepada saya seburuk apapun masalah yang ia hadapi. Pendidikan seks dan pergaulan juga menjadi topik yang tidak tabu kami bicarakan, berkaca dari pengalaman lalu.

 

Saya percaya, banyak pengalaman serupa di luar sana. Jika saja kisah saya ini bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun yang berada dalam posisi hamil dan single, baik karena belum menikah ataupun karena perceraian, mencari dukungan orang terdekat adalah hal pertama yang harus dilakukan. 

 

Support dari orang tua, saudara kandung, atau sahabat, tidak hanya bisa membuat ibu hamil lebih tenang secara batin, namun juga mampu membuat kita terhindar dari perbuatan bodoh yang membahayakan, seperti upaya aborsi dan menyakiti diri.

 

Pada masa-masa tersebut, emosi lebih banyak mengambil porsi dibanding logika. Maka mereka yang bisa menjadi tempat curhat kita akan membantu untuk menerima keadaan dan menyadarkan kita bahwa janin dalam kandungan ini harus tetap dijaga kondisinya. Seterpuruk apapun kita.

 

Mencari dokter kandungan atau bidan yang cocok harus dilakukan, termasuk periksa rutin. Bertanyalah sebanyak mungkin pada dokter meskipun itu pertanyaan yang mungkin semua orang tahu.  Sejauh itu bisa membuat tenang, lakukan.

 

Jika ternyata lingkungan terdekat tidak ada yang dapat memberi kita dukungan moral, atau sebaliknya karena kita yang menutup diri, masih ada komunitas atau lembaga yang bisa menerima cerita kita. 

 

Mungkin saja, dari konselor di komunitas tersebut, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki pengalaman yang sama dan bisa saling menguatkan.

 

Urusan sekolah, kuliah, atau pekerjaan, sebaiknya dipikirkan lebih awal. Jika kita sanggup menjalani kehamilan dengan tetap menjalani aktivitas seperti biasa, it’s ok. Jika tidak, utarakan kesulitan kita pada pihak yang bersangkutan agar bisa dicari jalan keluarnya bersama-sama. 

 

Jangan pikul semua sendiri, karena stres pada ibu akan berpengaruh pada janin.

 

Terakhir, bersyukur dan jangan putus asa. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Bagi orang lain, apa yang saya alami mungkin adalah sebuah kecelakaan. Namun bagi saya, Azka adalah anugerah Tuhan yang saya tidak pernah saya sesali, yang darinya saya mendapat banyak pelajaran berharga sekaligus kebahagiaan. To all single moms out there, you’re not alone.

 

Seperti diceritakan Ayu (36) pada SKATA.