Seusai melahirkan anak kedua, ada pertanyaan yang kerap muncul dari kerabat yang datang menjenguk yaitu, “Kakaknya cemburu enggak ya?”.

 

Pertanyaan ini cukup wajar dilontarkan khususnya jika jarak kelahiran antara 1-5 tahun, dimana anak pertama masih belum memasuki usia sekolah.

 

Pada usia tersebut, kebanyakan anak masih belum sepenuhnya mandiri untuk melakukan rutinitas harian, serta masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang intens dari kedua orangtuanya.

 

Kebanyakan ibu saat ini sudah mulai memperkenalkan calon adik kepada kakaknya bahkan sejak testpack menunjukkan dua garis. Gambaran anak akan adiknya akan semakin nyata ketika kehamilan ibu sudah memasuki trimester ketiga, saat perut semakin besar dan tendangan janin meningkat frekuensinya.

 

Pada masa ini, anak pertama akan merasa excited karena membayangkan adik bayi yang lucu seperti boneka dengan baju mungil dan mainan berwarna-warni. Kemudian, rasa yang “berbeda” muncul ketika sang adik lahir dan ibunya lebih banyak berkutat dengan bayi.

 

Di sinilah biasanya anak mulai menunjukkan perilaku yang tidak seperti biasanya dan kerap menguji kesabaran orangtuanya.

 

Jangan takut, kecemburuan kakak terhadap adiknya bisa diminimalisir, kok. Untuk itu, tips di bawah ini bisa dicoba!

 

 

Kenalkan anak sejak bayi masih di dalam kandungan

Ajak anak untuk meraba perut ibu sembari mendengarkan cerita ibu tentang bentuk janin di dalam perut, dimana posisi kepala dan kakinya, apa yang bisa dilakukan adik bayi di perut, dan sebagainya.

 

Saat ibu berbicara pada janin, jangan lupa perkenalkan kakak pada si janin semisal dengan kalimat, “Dek, ini kakak. Besok kalau adek sudah lahir main sama kakak, ya!”

 

Bacakan buku cerita untuk anak, kemudian bacakan satu cerita lagi sambil mengatakan bahwa buku yang kedua adalah untuk adiknya. Berbelanjalah keperluan bayi dengan anak pertama, dan minta ia memilihkan beberapa warna yang ia suka.

 

 

Berikan gambaran aktivitas bayi setelah lahir

 

Anak mempunyai bayangan yang menyenangkan tentang bermain bersama adiknya, namun kita dapat membuatnya lebih nyata dengan menggambarkan rutinitas bayi, seperti menyusu, tidur, dimandikan, dijemur, mengompol, dsb.

 

Jangan lupa, tambahkan penjelasan bahwa ibu akan sering bersama adik bayi karena ia belum mampu tidur sendiri, minum sendiri, mandi sendiri. Tawarkan pula pada anak apabila kelak ia ingin membantu merawat adik atau tidak.

 

 

Libatkan anak dalam perawatan bayi

 

Setelah bayi lahir, libatkan anak untuk membantu ibu merawat adiknya. Sesuaikan aktivitas dengan kemampuan anak.

 

Anak usia dua tahun sudah mampu membantu mengambilkan tisu basah dan merekatkan popok. Anak usia tiga tahun bisa diminta menyanyikan lagu untuk adiknya ataupun mengoleskan minyak telon.

 

Anak empat tahun ke atas mampu melakukan lebih banyak hal lagi, seperti membantu membuka tutup botol sabun di bak mandi.

 

 

Sediakan waktu khusus untuk berdua

 

Saat bayi sedang tidur, manfaatkan waktu tersebut untuk melakukan hal berdua saja dengan si kakak. Bermain, menggambar bersama, memasak, atau pergi berjalan-jalan bisa menjadi pilihan.

 

Selalu luangkan waktu untuknya setiap hari –selelah apapun anda- dimana ibu benar-benar fokus pada anak pertama dan minimalisir penggunaan gadget pada waktu ini. Intinya, quality time.

 

 

Berikan pujian, pelukan, dan ciuman

 

Pilih waktu dalam satu hari untuk memberikan pujian pada kakak atas prestasinya hari itu, misalnya mau makan sayur, bisa mandi sendiri, mau membereskan mainan. Jangan lupa, tetap peluk dan cium ia sebanyak sebelum bayi lahir, karena ibu baru cenderung lebih banyak mencium dan memeluk bayinya tanpa menyadari bahwa anak pertama pun masih ingin diperlakukan sama.

 

 

Tetap kendalikan emosi 

 

Jika berbagai macam usaha telah dicoba namun si kakak tetap menunjukkan perilaku yang kurang kooperatif, tetaplah kendalikan emosi anda.

 

Walaupun sudah “naik status” sebagai kakak, ia tetaplah anak kecil yang masih berusaha memahami emosinya dan beradaptasi dengan hal baru, yaitu kehadiran adik baru. Usahakan untuk tetap bersabar meskipun adik bayi sering menjadi sasaran keusilan.

 

Bantu ia menjalani proses ini dan jangan lupa ajak suami dan keluarga terdekat untuk melakukan hal yang sama.

 

Beberapa tips di atas memang lebih efektif dijalankan jika jarak usia kakak dan adik tidak terlalu dekat. Karena itu, pengaturan jarak kelahiran sangatlah penting. Tidak hanya karena alasan kesehatan sang ibu, namun juga untuk kebahagiaan setiap anak. 

 

 

Editor: Elvin Eka Aprilian