Sibuk mengurus bayi yang baru lahir ditambah memberinya asi secara eksklusif akan menimbulkan rasa lelah baik dari segi fisik maupun mental bagi sang ibu. Bantuan dari orangtua untuk mengurus ini-itu pun kini menjadi hal yang biasa bagi pasangan muda pasca kelahiran anak pertama.

 

Namun, tidak mungkin kita menggantungkan perawatan anak kita selamanya kepada mereka. Terlebih lagi, jika pasangan suami dan istri sama-sama bekerja. Cuti hamil tiga bulan terasa sangat singkat untuk belajar merawat bayi dan memahami berbagai kebutuhannya.

 

Mau tidak mau, kita harus realistis untuk meminta bantuan orang lain. Jika tidak ingin merepotkan orangtua, maka ada dua pilihan yaitu menitipkan anak di daycare atau memiliki asisten rumah tangga (ART).

 

Jika menitipkan anak di daycare (tempat penitipan anak) menjadi keputusan kita, maka kita bisa melakukan survey daycare saat bayi masih dalam kandungan. Selain faktor biaya, pertimbangkan juga reputasinya, pengalaman dan kualitas tenaga pengasuh, fasilitas yang ada, keamanan dan kebersihan lokasi, serta jarak dengan tempat kerja atau tempat tinggal.

 

Di kota besar, mencari daycare bukan perkara sulit. Masalah timbul jika di kota tempat Anda tinggal tidak tersedia daycare. Jika begitu situasinya, maka memiliki asisten rumah tangga pun menjadi pilihan satu-satunya.

 

 

Baca juga : Lima Hal Penting Tentang Pengasuh Anak
 

 

Kapan sebaiknya kita mulai mencari Asisten Rumah Tangga?

 

Jika Anda seorang wanita karir, sejak masa hamil hendaknya sudah harus mulai mencari asisten rumah tangga. Ungkapan “mencari asisten rumah tangga susahnya seperti mencari jodoh” mungkin benar adanya mengingat kebutuhan akan tenaga ini sangat tinggi sementara tenaga kerja yang memenuhi kriteria dan tersedia tidak banyak.

 

Dengan mencari asisten rumah tangga sedini mungkin, Anda jadi tidak terlalu stres ketika belum kunjung mendapat calon-calon ART yang cocok dan memenuhi kriteria. Trimester ketiga kehamilan bisa menjadi waktu yang ideal untuk mencarinya secara serius. 

 

Selain kondisi tubuh yang sudah bebas dari morning sickness, rentang waktu yang tersisa sekitar dua bulan membuat kita sudah bisa membayangkan dengan lebih akurat tentang bantuan apa saja yang kita butuhkan setelah melahirkan. 

 

Selain itu, jika asisten rumah tangga sudah siap bekerja sementara bayi belum lahir, kita bisa mulai melatihnya melakukan pekerjaan yang kelak akan ia lakukan, sembari ia beradaptasi dengan lingkungan rumah dan tempat tinggal kita. Ketika bayi lahir kelak, diharapkan ia sudah tidak terlalu nervous untuk mulai bekerja.

 

 

 

Apa saja kriteria yang perlu kita lihat dari seorang Asisten Rumah Tangga?

 

Setiap orang memiliki kriteria yang berbeda dalam memilih asisten rumah tangga. Namun, selain kemampuan-kemampuan dasar seperti bersih-bersih dan membereskan rumah, tentunya ada kriteria tambahan yang spesifik untuk kebutuhan ibu yang baru memiliki anak dan sedang repot menyusui. Kita dapat menggunakan beberapa syarat yang biasanya dipertimbangkan oleh kebanyakan ibu, yaitu:

 

 

Sayang Anak 

 

Mengurus anak membutuhkan kesabaran ekstra. Jika asisten rumah tangga kita tidak memiliki kecintaan pada dunia anak, maka ia bisa cepat bosan, tidak betah, dan yang paling seram adalah bertindak kasar dan emosional kepada anak kita.

 

Kita bisa bertanya terlebih dulu tentang pengalaman kerjanya dalam mengurus anak. Jika ia pernah mengasuh anak sekian tahun misalnya (baik itu anak majikan sebelumnya atau anaknya sendiri), berarti ia masih bisa diandalkan.

 

Berikan juga sedikit 'ujian' bagi dia untuk mengetahui kemampuannya dalam menangani dan mengasuh anak kecil. Undang sanak saudara atau tetangga Anda yang memiliki anak yang masih kecil, lalu minta sang calon ART untuk menyuapi anak itu. Perhatikan caranya membujuk dan kesabarannya dalam menghadapi si anak.

 

Jika ia dapat 'menjinakkan' atau membujuk anak kecil yang terkenal susah makan dan banyak gerak, maka dapat diasumsikan kemampuannya dalam mengasuh anak-anak cukup baik.

 

 

Baca juga : 7 Tips Menciptakan Waktu yang Berkualitas untuk Anak Bagi Orang Tua Bekerja

 

 

Mau Belajar 

 

Mengurus bayi membutuhkan ketelatenan menyangkut belajar mengenai ASIP (ASI perah), cara menyajikannya, begitu juga ketika nanti mulai masuk masa MPASI (makanan pendamping ASI). Biasanya, asisten rumah tangga yang berusia muda masih bisa belajar. Jika sudah tua, kita harus pelan-pelan dalam menjelaskan segala sesuatunya. Namun jika sudah berumur, biasanya sudah sarat akan pengalaman dibandingkan yang masih muda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

 

 

Jujur 

 

Kejujuran menjadi faktor penting. Tidak hanya menyangkut masalah uang, namun juga jika terjadi sesuatu dengan bayi kita (misalnya jatuh, tersedak) ia dengan jujur menyampaikannya kepada kita meskipun resikonya kita akan marah. Hal seperti ini penting agar kita bisa segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika bayi berada dalam kondisi bahaya.

 

 

Chemistry (Kecocokan)

 

Kriteria terakhir yang penting namun tidak dapat dijelaskan secara logis adalah adanya chemistry atau kecocokan. Ketika kita bertemu dengan asisten rumah tangga untuk pertama kalinya, biasanya kita sudah punya feeling apakah orang tersebut baik atau tidak.

 

Jika anda tidak mantap, tidak usah dipaksakan untuk menerimanya. Namun, jika Anda tidak memiliki pilihan lain, bangun pikiran positif bahwa bayi Anda akan baik-baik saja dengannya. Namun jika ternyata kinerjanya terbukti mengecewakan, segera cari gantinya.

 

 

Apakah Asisten Rumah Tangga hanya dimiliki oleh ibu bekerja?

 

Tidak. Ibu rumah tangga pun bisa mempertimbangkan untuk memiliki asisten rumah tangga jika pekerjaan mengurus anak dan mengurus rumah tangga dianggap terlalu melelahkan. Biasanya, jika memiliki anak dua atau lebih dengan jarak yang relatif dekat, seorang ibu rentan merasa kewalahan dengan rutinitas domestik dan mengurus anak.

 

Emosi yang sering lepas kendali serta merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri bisa dijadikan indikator jika Anda membutuhkan bantuan orang lain. Jika budget terbatas, Anda bisa memilih asisten rumah tangga pulang hari yang hanya bersih-bersih rumah, mencuci, menyetrika pakaian, dan membantu kegiatan-kegiatan lainnya saja, sementara kegiatan mengasuh anak sepenuhnya tetap menjadi tanggung jawab anda.

 

 

Bagaimana ibu, sudah mantap memiliki asisten rumah tangga? 

 

 

 

 

Editor: Elvin Eka Aprilian