Ada ketakutan tersendiri bagi wanita bekerja ketika ia memasuki jenjang pernikahan: apakah kelak saya masih bisa bekerja lagi setelah menikah dan mempunyai anak? Pada beberapa kasus, pasangan suami dan istri pada saat awal menikah telah sepakat bahwa istri tetap bisa berkarir meskipun mempunyai anak.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata tidak mudah membagi waktu antara karir dan rumah tangga, apalagi jika support system tidak ada. Dalam hal ini, yang menjadi titik tekan adalah support system untuk menjaga anak selama ayah dan ibunya bekerja.

 

Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin suami akan berubah pikiran untuk meminta istri “di rumah saja” merawat anak, sementara suami yang bertugas mencari nafkah. Istri pun menjadi dilema.

 

Rasa tidak tega terhadap anak pasti muncul, suami pun juga tidak sampai hati melihat istrinya jungkir balik membagi waktu antara anak dan karir. Namun, untuk kemudian mengundurkan diri dari pekerjaan perlu dipikirkan berulang kali karena ada beberapa pertimbangan. 

 

 

Pertama, jika passion adalah alasan utama istri bekerja. 

 

Akan sangat berat bagi seorang wanita untuk meninggalkan karirnya jika bidang yang digeluti merupakan passionnya. Artinya, bekerja tidak semata untuk mencari uang. Setiap orang, apapun jenis kelaminnya, akan merasa hidupnya lebih bersemangat jika dapat melakukan hal yang menjadi minatnya.

 

Jika dipaksakan untuk berhenti bekerja dan total mengurus rumah tangga, ada fase adaptasi yang mungkin akan melelahkan secara mental. Stres pun rentan muncul.

 

 

Baca juga : 3 Hal Dasar Agar Anak Cerdas Mengelola Uang

 

 

Kedua, faktor ekonomi. 

 

Suami mungkin sanggup menafkahi istri dan anak-anaknya. Namun, jika istri menjadi tulang punggung keluarganya (seperti membiayai sekolah adiknya atau menanggung biaya hidup orangtuanya), berhenti bekerja rasanya menjadi hal yang susah dilakukan.

 

Bukan tidak mungkin, akan ada intervensi dari keluarga istri agar ia tidak berhenti bekerja.

Karena itu, pertimbangan kedua terdengar lebih mudah diterima oleh suami. Lantas, bagaimana jika suami belum sepakat dengan istri jika alasan untuk bekerja adalah passion

 

Kunci yang paling mendasar adalah saling memahami. Setiap individu dibesarkan dengan cara yang berbeda yang membentuk kepribadian dan minat masing-masing. Pernikahan yang sehat sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Karena itu, baik suami dan istri harus mencoba untuk memahami keinginan masing-masing. 

 

 

Baca juga : 7 Pekerjaan Sampingan Untuk Membantu Keuangan Keluarga

 

 

Bagi istri, pastikan bahwa keinginan untuk berkarir tidak akan membuatnya lepas tanggung jawab terhadap kewajiban rumah tangga. Bekerja dan mengaktualisasikan diri memang hak istri selama kewajibannya dijalankan dengan baik. 

 

Untuk memastikan anak tetap terawat sementara anda bekerja, istri dan suami harus berdiskusi siapa yang akan merawat anak. Saat ini, sudah banyak daycare, penitipan anak, maupun agen penyalur babysitter yang dapat kita gunakan apabila tidak ada anggota keluarga yang dapat membantu kita. Full day school pun bisa menjadi pilihan jika anak sudah bersekolah. Dengan perencanaan yang jelas mengenai pengasuhan anak, suami akan lebih mudah membayangkan seperti apa kondisi keluarga jika istri bekerja. 

 

 

Selanjutnya, setiap pasangan bekerja harus mengingat bahwa pernikahan adalah kerjasama. Jangan sampai, ketika seorang suami sudah memperbolehkan istrinya bekerja, ia tidak mau membantu ketika istrinya sedang kerepotan dengan urusan anak dan rumah tangga. 

 

Baik istri maupun suami harus menyadari konsekuensi pasangan bekerja, yaitu menyeimbangkan antara kesibukan bekerja dengan keluarga. Dengan kerjasama yang baik, pembagian tugas yang jelas, dan kemampuan menyediakan quality time bagi anak dan pasangan, lelahnya bekerja akan terbayar. Pemasukan keluarga pun lebih banyak. 

 

 

Baca juga : Gaji Suami Lebih Kecil Dari Istri, Tidak Masalah

 

 

Terakhir, kebahagiaan suami dan istri menentukan kebahagiaan berumah tangga. Istri yang bekerja karena keinginan sendiri dan menemukan semangat di dalamnya, biasanya akan menjadi lebih bahagia. 

 

Istri yang bahagia akan membuat suasana rumah nyaman bagi suami maupun anak. Anak yang dibesarkan oleh ibu yang merasa kebutuhannya terpenuhi pun akan lebih bahagia. Happy moms raise happy kids.

 

Memang tidak mudah mengatur segala sesuatunya, apalagi jika ananda masih berusia di bawah lima tahun. Perasaan bersalah karena tidak bisa menemani anak 24 jam di masa emasnya pasti muncul. 

 

Namun, jika istri dan suami percaya semua masalah pasti ada jalan keluarnya, semua bisa dijalani. 

Nanti akan datang saatnya dimana anak-anak sudah semakin besar, kerepotan akan berkurang, dan ternyata semua baik-baik saja.

 

Editor: Elvin Eka Aprilian