Hal apa sih yang paling penting ketika membangun sebuah keluarga?

 

Awalnya banyak yang fokus ke arah perkawinan, lalu tinggal dimana dan bagaimana nanti kehidupan berdua.

 

Ketika membangun keluarga, yang paling pertama dipikirkan justru adalah menyamakan visi misi bersama pasangan, dari mulai pesta, tinggal dimana, sampai urusan jumlah anak.

 

Ketika merencanakan anak mau satu atau dua, kita bahkan sudah memikirkan rencana mau sekolah dimana, walaupun masih jauh, tapi setidaknya punya target. Karena kalau kita tidak punya target dari awal dan tidak direncanakan kita pasti kewalahan ketika waktunya sudah mendekat.

 

Ketika menyamakan visi misi dengan pasangan seharusnya tidak perlu khawatir dengan pengaruh orang tua dan orang sekitar, karena perlu dipertegas kembali, yang menjalani keluarga adalah kita, dan ini adalah keluarga kita sendiri. Prinsip dan visi misi harus berdasarkan tujuan bersama pasangan. Bukan orang lain, bahkan orang tua kita sendiri.

 

 

Banyak anak banyak rezeki, apa pendapatmu?

 

Jaman dahulu kenapa orang berpikir banyak anak banyak rezeki kalau menurut gue karena mereka berpikir nanti kalau kita sudah tua nanti siapa yang ngurus, kalau anak sedikit nanti yang ngurus sedikit. Padahal ya zaman sekarang ketika karir anaknya melejit pasti bisa-bisa ga keurus juga.

 

Menurut gue sekarang itu adalah era dimana kita kalau sudah tua itu ingin mandiri. Kita berpikir sebagai kakek nenek nanti tidak ingin merepotkan anak kita sendiri.

 

Nah pola hidup sekarang juga berbeda, lebih konsumtif. Secara psikologis anak lebih pengen ngikutin perkembangan zaman dan pengen kaya temannya lah, sepupunya lah, punya ini itu dan kebutuhan lainnya. Kalau selalu dituruti, pengeluaran biayanya juga pasti akan banyak.

 

Pada kasus orang yang sangat mampu, walau mereka mampu menyanggupi kebutuhan semua anak2nya, namun ada hal lain yang perlu diwaspadai ketika rentang jarak anak pertama dan kedua yang terlalu jauh ataupun terlalu dekat itu akan mempengaruhi bentuk perhatian mereka, itu berbahaya dan berpengaruh terhadap psikologis anak. Banyak anak juga memliki resiko terjadi ketidakadilan perhatian.

 

Jadi menurut gue saat ini, banyak anak memiliki dua faktor resiko, pertama financial dan kedua psikologis anak. Anak dua saja saya rasa cukup, dan bisa lebih bahagia.

 

 

Baca juga : Jangan Bilang Sudah Tahu Tentang IUD Sebelum Baca Ini

 

 

Penjarakkan anak dan penggunaan alat kontrasepsi.

 

Iya ketika anak pertama lahir langsung kepikiran untuk menjarakkan anak, saat itu konsep penjarakkan anaknya kita hitung berdasarkan jarak sekolahnya. Sederhananya ketika kakaknya kelas 3, adeknya kelas 1.

 

Nah supaya terwujud dengan jarak sesuai, ketika anak pertama lahir, istri langsung ber-KB. Dan ketika akhirnya sudah waktunya memproduksi lagi “eh ini sudah waktunya nih kita produksi lagi” kita langsung lepas KB.

 

 

Pakai alat kontrasepsi apa? Lalu apakah ini berdasarkan komitmen berdua?

 

Pakai IUD.

 

Kenapa pilih IUD, karena itu pilihan istri. Gue melihat yang mau pakai kontrasepsi itu kan istri ya, jadi ya gue serahin semua ke istri pilihan alkonnya, selama itu membuat dia nyaman. Sejujurnya kalau istri maunya pakai kondom pun gue ga masalah. Tapi ternyata istri lebih memilih IUD dan gue mendukungnya. 

 

Kita sempat berdiskusi namun yaitu tadi yang pada akhirnya gue cuma berpikir untuk kenyamanan istri, mana nih dari semua alkon yang menurutnya paling nyaman digunakan.

 

 

Baca juga : Mitos-Mitos Tentang IUD dan Implan Yang Ternyata Salah

 

 

Setelah pasang IUD, adakah rutinitas yang berubah?

 

Ga ada sih, cuma begini kita itu selalu punya patokan, ketika si kakak ulang tahun kita ngecek dan kontrol ke dokter untuk mengetahui posisi IUD berubah atau tidak dan sebagainya.

 

 

Ada mitos mengenai IUD, ketika berhubungan intim dengan istri, suami merasa tidak nyaman. Benar ga sih?

 

Di gue terjadi, dan itu entah kebetulan atau tidak. Ketika itu terjadi hal tersebut seperti jadi pertanda kalau istri gue mau dapet. Gue ga tau ya medisnya bagaimana, tapi mungkin itu ada hubungannya antara kondisi ketika mau dapet dengan posisi IUD yang membuatnya menjadi lebih turun. 

 

Jadi ketika berhubungan intim dan merasa ada yang nusuk oh pasti istri gue mau dapet dan bener aja lho, beberapa hari kemudian dapet. Tapi tidak selalu seperti itu sih sempat ke dokter untuk cek, tapi tidak masalah. Tidak selalu dan tidak menganggu juga buat gue sih.

 

 

Adakah perasaan was-was kebobolan walau istri sudah pakai IUD?

 

Kalau was-was sih ada ya, nyokap gue mengaku kalau adik gue lahir itu akibat kebobolan padahal pakai IUD. Tapi ya mungkin aja sih, karena IUD juga kan ada faktor kegagalannya, walau kecil sekali.

Tapi yang jelas nggak pernah kita pikirin, karena setelah pakai IUD pun kita sudah memikirkan segala bentuk resiko sampai kebobolan.

 

Selama ini pun ga pernah ada kejadian kebobolan, padahal istri gue termasuk orang yang subur banget dan gampang hamil. Kuncinya sih rutin kontrol, supaya selain tahu posisinya kita bisa tahu keefektifannya.

 

 

Ketika melepas IUD, berapa lama istri kembali subur?

 

Setelah lepas dalam waktu dua bulan langsung subur, artinya ketika lepas dan dua bulan kemudian dapet hasil positif di test packnya.

 

 

Peran suami untuk mendukung perencanaan keluarga?

 

Yang paling utama adalah membangun visi misi, buat kesepakatan jumlah anak dengan pasangan. Ada beberapa yang masih mementingkan jenis kelamin, harus punya anak laki, jadinya ga terkontrol jumlahnya sampe punya anak laki. Dan itu menjadi masalah sosial tersendiri sih. Jadi kesepakatan jumlah anak adalah suatu keputusan penting.

 

Lalu sejauh mana intervensi atau ikut campur orang lain yang mempengaruhi keputusan kita, seperti orang tua maunya cucunya ada laki-lakinya dan lain sebagainya. Nah disitulah peran suami juga yang harus mampu menjadi benteng untuk memegang prinsip keluarga tanpa perlu terpengaruh oleh intervensi dari luar. Mendahulukan istri kita lebih penting, karena istri kitalah yang paling banyak mengemban tugas.

 

 

Pernah dengar kontrasepsi vasektomi? Kira-kira mau nggak divasektomi?

 

Pernah, tapi ya karena gue takut banget sama jarum dan belum tau banget infonya kaya gimana, dampaknya bagaimana gue belum terpikir untuk vasektomi dan istri gue juga gamau kalau gue di steril, dia kepingin kalau dia aja yang disteril.

 

Tapi gue sebetulnya jadi kepingin juga sih, karena belum lama dengar temen gue disteril dan tidak terjadi apa-apa, dan dia cerita mendetil sampai efek ke kehidupan seksual yang aman-aman aja.

 

 

Baca juga : Menjadi Arsitek Atas Kebahagiaan Keluargamu

 

 

Tips untuk keluarga baru yang merencanakan keluarga?

 

Mempersiapkan segalanya jauh-jauh sebelum menikah, jangan nanti setelah nikah dan sudah  hamil baru dipikirkan. Kalau sudah siap berumah tangga, sebaiknya sudah dari awal mulai bersikap seperti layaknya orang dewasa yang bahkan sudah berumah tangga.

 

Tinggalkan pikiran bersenang-senang, tapi berpikir apa rencana kedepan, dan berpikir menjalaninya dengan secara menyenangkan tanpa merugikan rencana serta prinsip-prinsip yang sudah dibangun.

 

Perlu diingat, menikah itu bukan jenjang berikutnya dari pacaran, tapi adalah cerita baru. Kebiasaan pacaran itu sudah tidak bisa lagi diterapkan setelah menikah. Kedewasaan perlu lebih ditingkatkan ketika setelah menikah, karena prioritas utama adalah keluarga bukanlah keinginan atau keegoisan pribadi. 

 

Seperti yang gue bilang, yang paling utama adalah persamaan visi dan misi, karena itu adalah fondasi untuk perencanaan keluarga yang baik dan matang.

 

 

Editor: Elvin Eka Aprilian