Bagi setiap calon ibu baru, mempersiapkan kelahiran buah hati merupakan hal yang sangat menggembirakan sekaligus menegangkan. Mencari informasi seputar tahapan persalinan, konsultasi dengan dokter kandungan tentang kesehatan janin serta melakukan senam hamil biasanya merupakan hal yang tidak mungkin terlewatkan menjelang persalinan.

 

 

Sebagian ibu hamil bahkan sudah berbelanja perlengkapan bayi. Namun, banyak yang melupakan satu hal penting: persiapan menyusui.

 

 

Nindi (28) dan Aris (27), dapat dikatakan sebagai pasangan muda yang sangat well-informed tentang pengetahuan kehamilan. Segala hal tentang persiapan persalinan Nindi sudah dipertimbangkan masak-masak, baik itu hasil dari googling, membaca buku, konsultasi dokter, serta bertanya pada kerabat.

 

 

Singkat kata, persalinan berjalan dengan lancar, hingga ketika Nindi mengalami kesulitan dalam menyusui bayinya, di sinilah mereka baru merasa “kecolongan”.

Tiga hari pertama melahirkan, bayi Nindi kerap menangis karena proses menyusui yang terhambat

 

 

Nindi mengalami flat nipples (puting rata), sehingga tidak bisa diisap oleh bayinya. Konselor laktasi di rumah sakit tempatnya melahirkan pun mengajarinya teknik memijit payudara agar aliran ASI lancar, serta memijit putingnya agar bisa keluar.

 

 

Tak hanya itu, konselor laktasi juga memberitahu posisi menyusui yang benar: cara memegang bayi, posisi mulut bayi, serta berapa jam sekali bayi harus disusui. 

Usaha Nindi memang tidak langsung berhasil, tetapi ia tetap berusaha tanpa kenal menyerah untuk buah hatinya.

 

 

Saat bayinya terpaksa masuk NICU (Neonatal Intensive Care Unit) karena kekurangan oksigen menjelang persalinan yang mengakibatkan cedera otak, Nindi pun belajar untuk memerah ASI karena ASI harus diminumkan dengan sendok setiap dua jam sekali. Para bidan di NICU mengajarinya untuk merilekskan diri dan berpikir positif ketika memerah ASI agar ASI bisa keluar.

 

 

Tak lupa, Nindi meminum suplemen pelancar ASI. Sesama ibu di NICU pun saling memberi support. Pada hari ke tujuh, akhirnya bayinya bisa menyusu langsung meski pelekatannya belum sempurna.

 

 

 

Kisah Nindi di atas hanyalah salah satu contoh betapa proses menyusui bagi sebagian ibu baru tidak selalu mudah. Mereka yang cukup beruntung bisa langsung memberikan ASI, sementara sebagian lainnya harus menunggu sehari, dua hari, bahkan lebih. 

 

 

Dengan gencarnya kampanye pemberian ASI eksklusif, hambatan dalam proses menyusui bisa menimbulkan stres bagi siapapun yang mengalaminya. 

 

 

 

Karena itu, ibu hamil sebaiknya melakukan persiapan menyusui untuk mengurangi resiko kesulitan pemberian ASI. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

 

 

1. Mengetahui dengan baik tentang cara kerja kelenjar ASI

 

Meskipun sifatnya natural, menyusui merupakan suatu proses biologis yang dapat kita pelajari. Seorang ibu yang langsung dapat menyusui bayinya pun bisa mengalami masalah di kemudian hari, mulai dari puting lecet, produksi ASI sedikit, payudara bengkak, hingga mastitis (infeksi kelenjar susu). Karena itu, kita harus mengetahui logika supply and demand (ASI yang dikeluarkan sebanding dengan kebutuhan bayi), frekuensi menyusui atau memerah ASI, cara mengosongkan payudara untuk mencegah tersumbatnya saluran ASI, termasuk memilih ukuran bra yang tepat agar tidak terjadi mastitis. Jangan lupa, ketahui pula pertolongan pertama jika masalah di atas muncul.

 

 

2. Mengikuti kelas edukasi menyusui

 

Dalam kelas edukasi menyusui, ibu hamil bisa mendapatkan informasi yang lengkap mengenai seluk beluk ASI,  teknik menyusui, sharing session dengan  aktivis ASI, serta mendapat komunitas yang kelak bisa memberikan support kala kita menemui hambatan saat menyusui. Mengikuti kelas sejenis juga cocok untuk ibu hamil yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari informasi sendiri.

 

 

3. Berkonsultasi dengan ahlinya

 

Menemui konselor laktasi maupun bidan bisa menjadi salah satu pilihan untuk mempersiapkan diri menjelang proses persalinan. Selain bersifat lebih privat, konsultasi juga memungkinkan ibu hamil untuk bebas bertanya sekaligus belajar langsung dari ahlinya. Dengan konsultasi sebelumnya, kita tidak akan merasa canggung untuk bertanya kembali ketika kelak mengalami masalah menyusui pasca persalinan.  

 

 

4. Mempersiapkan kondisi fisik

 

Dari dalam, ibu menyusui perlu menjaga asupan nutrisi agar payudara dapat memproduksi ASI berkualitas. Dari luar, ibu hamil dapat mulai membersihkan puting menggunakan VCO (virgin coconut oil) agar tidak ada kerak yang menghalangi keluarnya ASI. Pijat payudara tidak disarankan karena dapat menyebabkan kontraksi. Sebagai gantinya, ibu hamil dapat mengikuti senam hamil dimana biasanya terdapat gerakan di seputar payudara. Gerakan ini berfungsi untuk  melancarkan aliran ASI. 

 

 

 

Yang terakhir, yakinkan diri bahwa kita bisa memberikan ASI bagi buah hati kita. Kebulatan tekad dan pikiran positif menjadi faktor yang paling penting dalam keberhasilan pemberian ASI. Selamat menyusui!