Salah satu hal terpenting yang perlu dilakukan dalam perencanaan keluarga adalah melakukan audit. Audit waktu dan usia, audit keuangan, audit cita-cita pasangan dan diri sendiri, dan audit kesiapan. 

 

Berikutnya setelah mendiskusikan dengan realistis dan mengkompromikan antara keinginan dan hasil audit, mulailah dengan merencanakan kehamilan. Perencanaan kehamilan yang paling baik adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi modern. 

 

Kita beruntung hidup di zaman yang modern ketika kemajuan teknologi telah memungkinkan upaya-upaya pengaturan kehamilan dilakukan dengan aman dan sehat juga nyaman dan praktis.

 

Kita juga beruntung hidup di zaman ketika pasangan dapat memilih dari sekian ragam kontrasepsi modern yang ada dan dapat menentukan secara bebas mana yang tepat dan cocok untuknya. 

 

Sedikit sejarah tentang KB di Indonesia. Keleluasaan yang kita miliki saat ini, belum dimiliki oleh orang-orang tua kita di jalam dahulu. Secara historis, inisiatif KB mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1950an oleh sekelompok ahli kesehatan, kebidanan dan tokoh masyarakat.  Pada tanggal 23 Desember 1957 kelompok ini mendirikan wadah dengan nama perkumpulan keluarga Berencana Indonesia (PKBI ) dan bergerak secara silent operation membantu masyarakat yang memerlukan bantuan secara sukarela. Pertimbangannya adalah murni kesehatan dan kesejahteraan. Keluarga yang dapat mengatur jumlah anaknya dengan baik, akan memiliki tingkat kesehatan ibu dan anak yang lebih baik dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

 

Baru pada tahun 1970an, dibentuklah lembaga pemerintah dengan program kerja yang resmi masuk ke dalam penganggaran negara. Badan tersebut saat ini kita kenal dengan nama: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Indonesia (BKKBN).

 

Kini program KB sudah dapat kita akses dan menjadi bagian dari hak kita sebagai warga negara untuk memperolehnya. 

 

Kenali kontrasepsi modern yang paling cocok untukmu dan pasangan. Temui petugas kesehatan dan segera ambil langkah nyata untuk menjadi Arsitek atas Kebahagiaan Keluargamu.

 

Kunjungi juga artikel sebelumnya: Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: "Waktu Keluarga Yang Berkualitas" (Bagian Keempat)