Finansial

 

Sudah baca testimoni SKATA tentang Banyak Anak Banyak Rejeki? Lembaga keuangan saham di Indonesia saat ini salah satunya memiliki program Yuk Nabung Saham, yang artinya apa? Mereka menemukan pola gaya hidup konsumtif dan tidak berpikir panjang keluarga/pasangan di Indonesia yang dikhawatirkan akan menjadi beban negara di masa akan datang. Beban finansial dan beban kualitas SDM-nya. 

 

Secara kesehatan finansial, seharusnya sebuah keluarga tidak menghabiskan penghasilannya hanya untuk menutup kebutuhan rutin dirinya dan keluarganya. Jika ini terjadi, inilah yang dinamakan living paycheck to paycheck, hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya. 

 

Seharusnya, keluarga hanya menghabiskan 50% penghasilannya untuk menutup kebutuhan rutin. Tentu ada kebutuhan sehari-hari yang wajib dipenuhi: biaya makan, biaya transport, biaya anak sekolah, biaya membayar cicilan rumah dan motor/mobil, dll.  Kebutuhan rutin ini setidaknya harus disisihkan dari pemasukan bulanan. Cukup tidak cukup, dana tersebut harus dicukupkan.

 

Selanjutnya sisihkan dana investasi minimal 15%. Dengan berinvestasi, peluang untuk pensiun dini lebih besar dan pasangan bisa menikmati hidup di masa tua tanpa harus pusing-pusing memikirkan finansial.  Dana investasi juga bisa digunakan untuk menyiasati mahalnya biaya-biaya di masa mendatang, seperti biaya pendidikan anak, biaya berobat, inflasi, dsb.

 

Sisihkan biaya darurat 10%. Jangan menyepelekan pengeluaran tidak terduga, karena itu bisa mengacaukan rencana keuangan. Karena itu sisihkan sebagian kecil pemasukan untuk biaya darurat.

 

Sisihkan 10% untuk tabungan, 5% untuk sedekah, dan 10% untuk biaya senang-senang.

 

Itulah pembagian yang dianjurkan oleh lembaga investasi nasional. Silahkan hitung penghasilanmu dan pasangan dan mulai membuat keuangan keluarga yang bijaksana. 

 

Pada artikel selanjutnya, SKATA akan membahas mengenai waktu dan kesejahteraan anak. Kunjungi artikelnya di sini: Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: “Waktu Keluarga yang Berkualitas” (Bagian Keempat)

 

Untuk mengunjungi artikel sebelumnya klik di sini: Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: “Ibu Sehat, Anak Kuat” (Bagian Kedua)