Masih ingat dengan Ibra dan Dini? Mari kita telaah bersama cita-cita mereka pada saat bulan madu. 

 

Perencanaan keluarga dan kebahagiaan ini sebenarnya ada hitung-hitungan matematikanya juga, sehingga bukan sesuatu yang datang kebetulan dan tanpa disangka-sangka atau datang karena waktunya sudah datang. 

 

Pertama-tama perhatikan aspek kesehatan Ibu dan Anak. Kematian karena melahirkan atau kematian pada anak yang baru dilahirkan di Indonesia masih cukup tinggi. Salah satunya dikarenakan perencanaan kehamilan dan kelahiran yang tidak dilakukan. 

 

 

Usia yang sehat untuk memiliki anak 

 

Jika ingin anak tiga – empat, apa saja yang perlu dimasukkan ketika merencanakannya? 

 

Usia 

 

Dini berusia 24 tahun. Pada usia 35 tahun, Dini seharusnya sudah berhenti melahirkan. Mengapa? Karena di atas usia 35 tahun, Ibu yang hamil dan melahirkan menaikan tingkat risiko pada kesehatan ibu dan anak yang sedang dikandungnya. Usia 35 tahun adalah usia yang dianggap berisiko untuk masih hamil. 

 

Jarak 3 -5 tahun antara dua kehamilan

 

Selanjutnya yang perlu diperhatikan juga adalah jarak antara dua kehamilan sebaiknya tidak kurang dari 3 tahun atau tidak lebih dari 5 tahun. Mengapa demikian? Ibu membutuhkan waktu untuk tubuhnya kembali normal setelah 9 bulan hamil dan melalui proses melahirkan yang berat. Jarak yang terlalu rapat meningkatkan risiko perdarahan dan bayi lahir terlalu dini. Begitu juga dengan jarak yang terlalu jauh, karena jarak yang terlalu jauh membuat kehamilan menjadi seperti kehamilan pertama kali, namun di usia yang lebih tua. 

 

Selain itu, setiap anak seharusnya mendapatkan ASI ekslusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan terus menyusui ASI hingga 2 tahun lebih. Karena apabila jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 1-2 tahun), maka ada kemungkinan ibu tidak berhasil memberikan hak anak untuk disusui selama 2 tahun atau lebih. Walaupun menyusui saat hamil (NWP atau Nursing While Pregnant) adalah sesuatu yang aman dan bisa dilakukan, namun ini hanya dapat dilakukan jika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu tidak ada riwayat kelahiran prematur dan keguguran, tidak terjadi kontraksi karena menyusui, serta kondisi ibu dan janin sehat. Selain itu, ada kemungkinan besar produksi ASI menurun di masa kehamilan atau si anak merasa tidak nyaman sehingga menyapih dirinya sendiri sebelum dua tahun. 

 

Di atas adalah sekelumit aspek perencanaan dari sisi usia dan jarak antar anak. Berikutnya SKATA akan membahas detail terkait finansial dan perencanaan keuangan keluarga pada artikel Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: “Gali Lubang Tutup Lubang” (Bagian Ketiga)” 

 

Untuk mengunjungi artikel sebelumnya klik di sini: Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: “Menjadi Arsitek atas Kebahagiaan Keluargamu” (Bagian Pertama)