Pertanyaan dari judul ini sebenarnya adalah: "Mau keluarga besar atau keluarga kecil?"

 

Sebuah keputusan yang sebaiknya ada di tangan masing-masing pasangan. Bukan di tangan orang tua, mertua, atau ikut-ikutan teman dan lingkungan. 

 

Namun sudahkah kita memiliki informasi yang akurat mengenai perencanaan keluarga? Sudahkah kita membicarakannya dengan pasangan kita sehingga ini menjadi keputusan bersama? Sudahkah kita melakukan tindakan pertama untuk memastikan rencana kita berjalan?

 

Jika semua jawaban di atas adalah belum, maka jangan-jangan kita membiarkan pihak lain yang menentukan kebahagiaan kita.  Atau jika jawaban di atas masih setengah-setengah, “Sudah sih sempat dibicarakan, tapi ya begitu saja.. hanya sempat disinggung” maka itupun berarti kita belum mengambil kendali atas keluarga kita sendiri. 

 

Jika keluarga dan kebahagiaan bisa direncanakan, seperti apa bentuknya? Artikel ini dan artikel selanjutnya akan membahas perencanaan keluarga dan faktor apa yang harus dipertimbangkan. 

 

Yuk, mulai berandai-andai: Katakanlah ada pasangan bernama Ibra dan Dini. Ibra menikah dengan Dini tahun 2010. Ketika menikah usia Ibra 26 tahun dan Dini 24 tahun. Mereka berbulan madu dan dalam perjalanan bulan madunya, mereka merancang-rancang anak-anak masa depan mereka. Dini bilang dia ingin punya 3 anak. Ibra bilang dia ingin punya 5 anak. Ibra bilang anak pertama harus laki-laki. Anak kedua dan terakhir juga laki-laki. Di tengah-tengah dua anak perempuan cantik hadir.  Dini bilang 5 anak terlalu banyak. Akhirnya mereka sepakat 3 – 4. 

 

Bagaimana dengan kamu? Apa rencanamu? Jika belum pernah memikirkan ini. Ambil pensil dan mulai mencatat anak-anak yang ingin dihadirkan dalam keluarga kecil (atau besar)-mu. 

 

Pada artikel berikutnya, SKATA akan membahas detail perencanaan keluarga dan mengauditnya bersama-sama.

Kunjungi artikelnya di sini: Keluarga Besar vs Keluarga Kecil: “Ibu Sehat, Anak Kuat” (Bagian Kedua)