Banyak anak, banyak rejeki

 

Saya sering berpikir, dari mana ya  frase ini berawal. Pasti pernah ada yang menghembuskannya dan kemudian membuatnya viral—di jaman dahulu kala ketika sesuatu menjadi viral bukan karena Twitter, tapi karena Kentongan. 

 

Lantas saya bertanya pada seorang teman yang berasal dari Amerika, adakah frase ini di budaya mereka. Dia menjawab singkat. Tidak. Tapi dia mendengar frase ini ada di banyak budaya lain. Hmm.. 

 

Lantas saya bertanya tetangga saya, apa maknanya banyak anak banyak rejeki, dia menjawab, karena si anak ketika besar nanti akan menyumbangkan rejeki buat orang tuanya. Saya berpikir – itu kan kalau anaknya kaya, kalau anaknya pada miskin-miskin yang ada banyak anak yang akan mengharap pinjaman uang dari orang tuanya.  Nah loo.. 

 

Saya masih belum puas, pasti ada wisdom di balik frase ini, saya bertanya lagi pada teman saya yang lain, darimana frase ini berawal. Menurut dia jawabannya ada dua (2): pertama, orang percaya bahwa tiap anak sudah ada rejekinya masing-masing, sehingga semakin banyak anaknya semakin banyak rejeki yang terkumpul, kedua, jaman dulu seorang kepala keluarga mengerjakan sebidang ladangnya sendiri, ketika anaknya banyak akan semakin banyak yang membantunya.

 

Saya pun akhirnya puas dengan jawaban ini. Cukup masuk akal—mengingat waktu dan jaman di kala frase ini pertama kali terhembus. 

 

 

Yang penting merencanakannya

 

Tiap orang akan memiliki pertimbangannya sendiri dalam menentukan berapa jumlah anak ideal mereka.  Yang terpenting menurut saya merencanakannya sebaik mungkin adalah bagian dari pertimbangan tersebut. 

 

Ketika memutuskan untuk memiliki dua anak saat itu, saya dan suami berpikir dan menakar-nakar banyak hal. Kami berpikir mengenai waktu, mengenai usia kami dan usia anak-anak kami nanti, mengenai tanggung jawab-tanggung jawab kami, dan juga mengenai kemampuan finansial. 

 

Kami berpikir tentang harapan serta visi kami mengenai keluarga yang ideal. Kami berdiskusi tentang hobi dan rencana-rencana pribadi yang masih ingin kami wujudkan, bakti kepada orang tua yang masih ingin kami tuntaskan, dan kami juga bermimpi tentang semua hal yang ingin kami berikan untuk anak-anak kami: orang tua yang sehat dan bahagia, sekolah setinggi mereka mau dan bisa, rumah dan segala fasilitas yang bisa mereka miliki untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak baik yang pada gilirannya menjadi manusia bermanfaat untuk orang lain. 

 

 

Journey saya dan suami

 

Waktu itu kami banyak melakukan riset, membaca-baca berbagai sumber, dan berdiskusi antara saya dan suami. Kami sepakat untuk tidak bertanya pada orang lain, karena kami khawatir pendapat orang lain hanya akan mempengaruhi kami. 

 

Mereka akan memiliki nilai-nilai mereka sendiri. Sementara kami akan membangun nilai-nilai kami sendiri sebagai suami dan istri. Kami ingin hal ini menjadi keputusan kami berdua. Karena kami yang akan menjalaninya, bukan orang lain. Saya dan suami yang akan menjalani ini, bukan sahabat-sahabat, keluarga, dan orang tua kami. 

 

Memutuskan berapa jumlah anak yang kami inginkan membawa kami kepada diskusi-diskusi mendalam dan semakin mendekatkan kami sebagai pasangan.  Saya mengetahui apa saja cita-cita dan rencananya, dia pun mengetahui apa saja keinginan saya dan hal-hal yang ingin saya capai.

 

Kami berbicara tentang anak-anak kami di masa yang akan datang dan menyepakati hal-hal yang ingin kami berikan untuk mereka. 

 

#IniCeritaku tentang keluarga kecil dan journey kami, untuk Hari Keluarga 2017 #RencanakanDuluBikinnyaKemudian #harganas #DahulukanKeluarga.