Paulie Bleeker, memasang headband dan wristband yang selalu menjadi andalan remaja laki-laki atletis pada umumnya, bersiap-siap untuk berlatih bersama tim atletiknya ketika seorang gadis remaja, Juno MacGuff menghampiri dan berkata “Aku hamil!”

 

Adegan tersebut merupakan cuplikan dari salah satu nominasi film terbaik Oscar tahun 2008 berjudul Juno, bercerita tentang kehamilan Juno, di usianya yang baru 16 tahun.

 

Juno yang tayang di awal tahun 2000an merupakan sedikit contoh dari budaya popular yang secara implisit menyampaikan konten tentang seksualitas dan kehamilan dini. 

 

Beberapa serial TV lainnya yang sempat popular di tahun 1990an seperti Growing Pains, Beverly Hills 90210, Melrose Place serta program MTV berjudul Teen Mom dan 16 and Pregnant juga mengandung konten serupa.

 

Budaya Populer atau Popular Culture seperti tren serial TV, film, internet dan berbagai sumber lainnya merupakan bagian penting dari konstruksi sosial di masyarakat dalam pembentukan persepsi & pola pikir terhadap suatu isu atau fenomena termasuk perilaku seksual dan kehamilan dini.

 

Menurut pakar Kunkel & Donnerstain di tahun 2005, 70% konten dari internet dan serial TV yang beredar selama beberapa dekade terakhir dinilai mengandung konten seksual baik secara implisit maupun eksplisit. 

 

Sungguh angka yang cukup mengkhawatirkan mengingat besarnya porsi konsumsi remaja terhadap media dan internet saat ini

 

Di berbagai talk show maupun seminar publik, sering terjadi perdebatan panjang mengenai dampak dari frekuensi tayangan tersebut. 

 

Pertanyaan yang sering dilontarkan; apakah budaya populer yang mengandung konten seksual mempengaruhi pola pikir remaja dalam ketertarikan perilaku seksual ataukah sebaliknya, bahwa tayangan yang mereka pilih untuk dikonsumsi, merefleksikan apa yang sudah mereka anggap sesuai dengan pola pikir mereka terhadap perilaku seksual? Mungkinkah ada faktor lain sebagai variabel berpengaruh dalam membentuk pola pikir remaja?

 

Sebuah studi kolaborasi beberapa universitas di Amerika oleh Keri Weed, Jody Nicholson dan Jaelyn Farris, dilakukan untuk menggali implikasi budaya populer ini secara lebih dalam. 

 

Eksperimen studi melibatkan sekelompok remaja berusia 10 sampai 19 tahun sebagai sampling. Dalam proses pengambilan data ini, mereka menonton 16 and Pregnant dalam kurun waktu tertentu.

 

Hasilnya, sebagian dari mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual menganggap bahwa remaja yang hamil di usia dini itu normal dan merupakan kemauan mereka sendiri untuk menjadi orang tua muda.

 

Yang menarik adalah sebagian besar responden yang setelah menonton tayangan 16 and Pregnant menganggap kehamilan dini itu normal dan diinginkan, mengaku bahwa dalam keluarga, mereka tidak pernah mendapatkan edukasi seksual dari orang tuanya. 

 

Persepsi bahwa kehamilan dini itu hal yang wajar untuk diinginkan juga salah satu bentuk distorsi tayangan TV, dimana gambaran remaja yang diceritakan mengalami kehamilan merupakan remaja pintar, ambisius, dan bisa mengatasi masalah kehamilan dengan mudah.

 

Hal ini tidak menggambarkan sisi lainnya, dimana kehamilan dini juga kerap dialami oleh remaja yang tidak berpendidikan, tidak punya tujuan, dan bergantung kepada program kesejahteraan sosial dari pemerintah dan swasta.

 

Di satu sisi, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa serial TV dan film dianggap sebagai media yang paling informatif berbicara tentang seksualitas dan kehamilan dini, sebagian kelompok remaja, terutama remaja putri banyak yang menggunakan sumber tersebut sebagai sumber edukasi seksual dan kehamilan dini. 

 

Sekali ini hal ini merupakan hasil dari kurangnya edukasi seksual dan kehamilan di dalam keluarga.

 

Benang merah dari berbagai pro kontra konten budaya populer ini adalah pentingnya peran edukasi keluarga sejak dini. 

 

Konten budaya populer merupakan fraction atau pecahan dari keseluruhan konstruksi pola pikir remaja dalam memahami seksualitas dan kehamilan, termasuk peran keluarga.

 

Besar kecilnya dampak dari budaya populer terhadap individu bergantung kepada sejauh apa integrasi individu tersebut terhadap pesan lain yang mereka cerna, misalnya obrolan dengan teman-teman, terutama orang tua.

 

Anggapan budaya populer sebagai penyebab utama dorongan remaja dalam perilaku seksual dan kehamilan seakan menutup celah lain yang tidak disadari juga mendorong adanya pola pikir tersebut.

 

Dengan adanya intervensi peran keluarga dalam menyampaikan edukasi seksual sejak dini serta melengkapi tayangan budaya populer dengan konten yang lebih riil mengenai pentingnya proteksi untuk mengurangi resiko penyakit dan kehamilan dini, perilaku seksual dan kehamilan dini yang memang tidak direncanakan dapat dihindari.